Paidi mantan pemulung yang sukses jadi miliarder (foto:Detikcom)
Madiun,Mediatihar.Com- Paidi pemulung yang kini dikenal sebagai “Miliarder Porang” dari Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, sukses menciptakan terobosan dalam budidaya porang. Melalui inovasi pola tanam, ia berhasil mempercepat masa panen sekaligus mendongkrak produktivitas lahan secara drastis.
Jika biasanya porang yang tumbuh liar di bawah naungan hutan membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun untuk dipanen, inovasi Paidi memungkinkan petani memetik hasil hanya dalam waktu enam bulan.
Keberhasilan Paidi bermula dari keberaniannya memindahkan budidaya porang ke lahan persawahan. Dengan teknik pemupukan dan perawatan intensif, porang terbukti tumbuh lebih cepat dibandingkan di bawah naungan pohon hutan.
”Dengan pola tanam baru, satu hektare lahan kini bisa menghasilkan 70 ton porang. Padahal saat awal mencoba dulu, hasilnya hanya sekitar sembilan ton,” ujar Paidi.
Salah satu kunci utamanya terletak pada pemilihan bibit. Paidi beralih menggunakan bibit dari umbi, bukan lagi biji ‘katak’ (bubil) yang menempel di daun. Strategi inilah yang efektif memangkas masa tunggu petani.
Kesuksesan ini membawa Paidi mendirikan PT Paidi Indo Porang. Perusahaan yang kini memiliki 66 karyawan tersebut tidak hanya menyiapkan bibit berkualitas, tetapi juga menjadi penampung hasil panen petani mitra melalui sistem Memorandum of Understanding (MoU).
”Terkait modal, tentu tergantung luas lahan. Jika berinvestasi bersama kami, rinciannya sudah tersedia, termasuk untuk skema kerja sama di lahan satu hektare,” jelas Paidi kepada wartawan di kediamannya, Selasa (4/2/2020).
Tak berhenti di hulu, ia juga merambah sektor hilir dengan memproduksi olahan porang berupa beras diet dan bihun, memanfaatkan kandungan glucomannan yang tinggi pada umbi tersebut.
Bagi Anda yang tertarik mengikuti jejak sukses Paidi, berikut adalah empat faktor krusial dalam budidaya porang menurut standar teknis yang dihimpun dari berbagai sumber:
1. Kondisi Tanah yang Ideal
Tanah yang cocok adalah jenis tanah gembur dan subur dengan kadar pH 6-7. Pastikan tanah memiliki kandungan organik tinggi dan tekstur ringan hingga sedang agar umbi berkembang maksimal.
2. Iklim dan Lingkungan
Porang idealnya ditanam pada ketinggian 100-600 mdpl. Meski toleran terhadap naungan (seperti di bawah pohon jati atau mahoni), pastikan tingkat kerapatan naungan berada di kisaran 40% agar pertumbuhan tetap cepat.
3. Seleksi Bibit Unggul
Kualitas bibit menentukan hasil akhir.
Biji: Satu tongkol harus menyimpan lebih dari 250 biji.
Bubil/Katak: Pilih yang berbentuk bulat, besar, dan sehat.
4. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama umum seperti ulat, belalang, dan nematoda dapat dikendalikan dengan fungisida (seperti Benlate atau Ridomil) dan insektisida sesuai dosis. Menariknya, petani tidak perlu mengkhawatirkan babi hutan atau tikus, karena kandungan kalsium oksalat pada porang memberikan rasa gatal yang secara alami mengusir hama tersebut.
Sumber : Detikcom














