Ketulusan yang Berbuah Nyata: Menengok Kembali Gagasan 10 Tahun Lalu Willybrodus Lay

CERPEN, RELIGI94 Views

Oleh: Haman Hendrikus 

Saat Batu dan Debu Menjelma Tempat Sujud: Keajaiban di Bukit Teluk Gurita

Belu,Mediatihar.Com- Dahulu, Bukit Teluk Gurita hanyalah seonggok tanah sunyi yang terlupakan waktu. Di sana, hanya ada hamparan rumput liar yang menari searah angin, bebatuan kokoh yang bisu, dan pepohonan kecil yang meranggas pasrah. Langkah kaki para penggembala dan sesekali lenguhan ternak warga setempat menjadi satu-satunya ritme kehidupan di bukit gersang itu.

​Namun, di balik tanah kering yang tampak mati itu, semesta seolah sedang merajut rahasia. Angin yang berembus di sela-sela batu membawa doa-doa tanpa suara, melambung perlahan menembus awan, langsung menuju hadirat Sang Pencipta.

​Waktu berlalu, dan keajaiban pun mengetuk Bukit Teluk Gurita. Kini, bukit yang dulunya sepi telah bersulih rupa menjadi bukit harapan. Di puncaknya yang tinggi, berdiri dengan amat megah Patung Bunda Maria Segala Bangsa. Kedua tangannya terulur lembut, seolah siap mendekap dan mengalirkan kasih kepada setiap peziarah yang datang memandang-Nya.

​Dari puncak ini, seolah terpancar api cahaya yang menyala hebat, namun anehnya, tak sedikit pun membakar semak di bukitnya. Itu bukanlah api duniawi yang menghanguskan. Itu adalah cahaya iman yang menghidupkan api yang menghangatkan hati yang letih, menguatkan jiwa yang rapuh, dan menerangi langkah mereka yang sedang tersesat mencari harapan.

​Melihat bukit ini, ingatan kita akan terbawa pada kisah Musa yang terpaku menatap semak menyala namun tak terbakar; sebuah tanda agung bahwa Allah hadir dan berkarya dalam kesederhanaan. Tempat ini juga berbisik tentang Nazaret, ketika Malaikat Gabriel datang membawa kabar sukacita kepada Maria. Dari tempat yang terpencil dan tak diperhitungkan, lahir karya keselamatan yang agung.

​Begitulah Teluk Gurita hari ini. Sebuah tempat yang dulunya asing, kini menjadi muara bagi ribuan jiwa yang datang untuk menumpahkan air mata, melambungkan syukur, bersimpuh pasrah, dan pulang membawa kedamaian.

​Keindahan yang berdiri kokoh hari ini tidak lahir dalam semalam. Ada air mata, keringat, dan keteguhan hati yang memulainya sepuluh tahun lalu.

​Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, berdiri menatap kemegahan patung tersebut dengan mata yang berkaca-kaca. Ingatannya melesat kembali ke satu dekade silam, saat tempat ia berdiri hanyalah sebuah bukit batu berdebu yang kosong.

​”Sepuluh tahun lalu, saya bersama para sahabat berdiri di sini, memandang bukit gersang ini,” kenang Willybrodus, suaranya bergetar menahan haru yang membuncah.

​”Saat itu, kami hanya punya satu tekad yang lahir dari ketulusan: di tempat ini, kelak Bunda Maria akan berdiri melindungi kita.

​Gagasan yang awalnya hanya berupa embrio kecil, sebuah impian yang mungkin dianggap mustahil oleh sebagian orang, kini telah berbuah nyata.

​”Malam ini, kita semua menyaksikan sendiri. Apa yang dulu hanya berupa coretan gagasan dan doa di dalam hati, kini berdiri tegak, indah, dan megah di belakang saya. Saya tak pernah menyangka, ketulusan sepuluh tahun lalu justru mempertemukan kita semua dalam sebuah kebersamaan yang luar biasa malam ini,” ungkapnya disambut keheningan malam yang syahdu.

​Bukit Teluk Gurita bukan lagi sekadar titik di peta. Ia telah menjadi saksi bahwa di mana ada iman dan ketulusan, di sanalah mukjizat akan tumbuh dan memancar ke seluruh bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *