Massa dari Aliansi Masyarakat Jakarta Timur memegang poster saat berunjuk Mereka menyatakan dukungan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan. Antara Foto/Fakhri Hermansyah
JAKARTA,MEDIATIHAR.COM- Sejumlah massa yang didominasi oleh ibu rumah tangga menggelar aksi penyampaian pendapat di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026). Massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Jakarta Timur tersebut menyatakan dukungan penuh terhadap keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun meminta agar variasi menu ditingkatkan dan orang tua dilibatkan dalam pengawasan.
Berdasarkan pantauan di lokasi sejak pukul 12.30 WIB, massa aksi tampak mengenakan pakaian bernuansa putih sambil membawa poster dan spanduk berisi aspirasi mereka. Selain dukungan terhadap MBG, beberapa poster juga menyuarakan pesan terkait penindakan tegas terhadap koruptor. Sebuah mobil komando berupa kendaraan bak terbuka juga tampak terparkir di tengah lokasi aksi. Jalannya demonstrasi berlangsung aman dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
Bagi kelompok ibu rumah tangga, program MBG dinilai berdampak langsung terhadap pengurangan pengeluaran harian keluarga serta membantu memperbaiki kebiasaan sarapan anak.
Suhartini, salah seorang warga asal Pondok Ranggon, Jakarta Timur, menuturkan bahwa program ini sangat membantu anaknya yang kini duduk di kelas 1 SMP.
”Anak saya kebetulan jarang sarapan di rumah. Jadi dengan adanya program MBG ini, anak bisa langsung makan di sekolah bersama teman-temannya,” ujar Suhartini saat ditemui di lokasi aksi.
Kendati mendukung penuh, Suhartini memberikan catatan agar pihak penyelenggara lebih memperhatikan variasi menu ke depan agar lebih praktis dan disukai anak-anak tanpa mengurangi nilai gizinya. Menurutnya, menu yang disukai anak akan menekan potensi makanan terbuang secara sia-sia.
”Harapan saya ke depan menunya bisa lebih variatif dan praktis, seperti makanan kering, roti, burger, atau susu yang disukai anak-anak namun tetap terpenuhi nilai gizinya,” tambah Suhartini.
Aspirasi serupa disampaikan oleh Nur, warga Jakarta Timur lainnya. Ia mengusulkan agar pemerintah membuka ruang bagi orang tua murid untuk terlibat langsung dalam pengelolaan komoditas makanan ini.
”Program ini sebenarnya sangat bagus karena anak-anak dapat makan gratis. Namun, akan lebih optimal lagi jika ke depannya ada skema di mana orang tua dilibatkan langsung dalam memasak atau mengelola anggarannya, agar menu yang disajikan bisa lebih sesuai dengan selera anak,” kata Nur.
Program MBG merupakan salah satu kebijakan prioritas nasional. Badan Gizi Nasional menargetkan program ini dapat menjangkau 82,9 juta penerima manfaat pada tahun 2026, yang mencakup anak sekolah, balita, ibu hamil, hingga ibu menyusui.
Merespons dinamika implementasi di lapangan, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, Hariqo Wibawa Satria, menjelaskan bahwa pemerintah terus melakukan evaluasi berkala, termasuk dari sisi penyesuaian anggaran.
”Pemerintah berterima kasih atas kritik dan saran dari masyarakat, seperti kita saksikan setiap hari perbaikan MBG terus berjalan. Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2026 itu Rp268 triliun, jadi bukan lagi Rp335 triliun. Ini bentuk evaluasi dari implementasi MBG,” jelas Hariqo.
Dukungan publik terhadap MBG sejalan dengan hasil riset Universitas Indonesia (UI). Peneliti Sosiologi FISIP UI, Hari Nugroho, mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat kelas menengah ke bawah merespons positif program ini karena secara nyata meringankan beban ekonomi domestik.
”Sebagian besar orang tua siswa memberikan penilaian positif terhadap program tersebut. Mereka menilai MBG mampu meringankan beban ekonomi keluarga, menghemat uang jajan anak, membantu orang tua yang sibuk menyiapkan makanan, serta mencegah anak mengalami kelaparan di sekolah,” urai Hari. Namun, ia mengingatkan agar tata kelola distribusi dan ketepatan sasaran terus diperbaiki agar tidak terkendala masalah teknis.
Dari perspektif ekonomi makro, peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai usulan keterlibatan orang tua murid sangat relevan untuk memperkuat fungsi pengawasan sekaligus membuka lapangan kerja baru di tingkat lokal.
”Dengan adanya MBG ini, akan menambah peluang tenaga kerja dan perlu keterlibatan orang tua dalam bentuk komunitas di wilayah lokal. Jadi ada pengawasan dari orang tua dan guru agar anak-anak menghabiskan makanan, sehingga gizinya terpenuhi,” tutur Eliza.
Efek domino ekonomi ini juga dirasakan langsung oleh para pekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Fania Lingga, salah seorang pekerja dapur MBG, berharap program ini terus konsisten berjalan demi menjaga keberlangsungan mata pencaharian warga lokal.
“Alhamdulillah betah. Kerjanya juga enggak terlalu berat. Di sini nyaman, sudah kayak keluarga sendiri. Pastinya sedih ya kalau MBG berhenti. Karena MBG ini justru banyak didukung,” pungkas Fania melalui keterangan tertulis yang dirilis Presidential Communication Office (PCO).***
Sumber: Antara.com








