
Menegakkan komitmen untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah kabupaten Belu (Foto:MT).
ATAMBUA, MEDIATIHAR.COM – Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu. Langkah strategis ini dilakukan guna mendukung percepatan pembangunan di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste melalui program pengabdian masyarakat yang berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan oleh Dosen Pembimbing Lapangan KKN Kolaborasi Undana–Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Alfred Dima, M.Si., saat menghadiri acara penarikan mahasiswa KKN di Kabupaten Belu.
Dalam sambutannya, Dr. Alfred menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemkab Belu serta seluruh masyarakat Desa Sadi, Dualaus, dan Tulakadi yang telah menerima dan mendukung keberlangsung seluruh rangkaian kegiatan KKN selama lebih dari 50 hari.
Ia menegaskan, KKN bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik mahasiswa semata, melainkan wahana pembelajaran konkret sekaligus wujud nyata kontribusi perguruan tinggi bagi daerah.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di tengah masyarakat, tetapi juga hadir untuk bersama-sama mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi desa. Inilah esensi pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat,” tegas Dr. Alfred.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kompleksitas tantangan pembangunan di kawasan perbatasan membutuhkan kerja sama multisektor. Menurutnya, percepatan pembangunan tidak bisa dicapai jika hanya mengandalkan satu institusi. Oleh karena itu, kolaborasi erat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi kunci utama.
Sebagai bukti komitmen tersebut, Undana saat ini tengah menjalankan program hibah pengabdian kepada masyarakat di sejumlah kabupaten se-Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan alokasi anggaran mencapai Rp1 miliar. Program ini dirancang berjalan secara berkelanjutan selama lima tahun ke depan.
Dr. Alfred berharap Kabupaten Belu dapat menjadi salah satu prioritas penerima manfaat program tersebut pada tahun mendatang, termasuk melalui penerjunan KKN tematik yang disesuaikan secara spesifik dengan kebutuhan daerah perbatasan.
Menutup arahannya, ia berpesan agar berakhirnya masa KKN tidak memutus tali silaturahmi dan semangat membangun daerah.
“KKN boleh berakhir, tetapi pengabdian tidak boleh berhenti. Kolaborasi yang dimulai dari tiga desa ini harus terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi masa depan pembangunan kawasan perbatasan, khususnya di Kabupaten Belu,” pungkasnya.


