Atambua, Mediatihar.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berupaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan pekerja informal Kabupaten Belu. Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Roadshow Edukasi Keuangan yang digelar di Gedung Wanita Betelalenok Atambua, Kamis (9/10/2025).
Wakil Kepala Kantor OJK Provinsi NTT, Polantoro, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang merupakan bagian dari Bulan Inklusi Keuangan (BIK) dan World Investor Week Program NTT Tahun 2025 ini.
Dalam sambutannya, Polantoro mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kesempatan ini sebagai momentum meningkatkan pemahaman tentang keuangan. Ia menekankan pentingnya literasi dan inklusi keuangan bagi pekerja informal yang memiliki peran krusial dalam menopang ekonomi keluarga dan daerah.
“Kegiatan ini kami tujukan bagi pekerja informal yang perannya sangat penting dalam menopang ekonomi keluarga. Literasi dan inklusi keuangan menjadi kunci agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan secara cerdas, aman, dan produktif,” ujarnya.
Polantoro juga menyampaikan sambutan dari Kepala OJK Provinsi NTT yang berhalangan hadir. Dalam sambutan tersebut, dipaparkan hasil Survei Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2025 yang menunjukkan tingkat literasi keuangan nasional mencapai 66,44% dan inklusi keuangan 80,51%.
Meski menunjukkan kemajuan, terdapat kesenjangan 14,05% yang mengindikasikan sebagian masyarakat telah menggunakan layanan keuangan, namun belum sepenuhnya memahami risiko, hak, dan kewajiban terkait produk yang digunakan.
OJK menargetkan inklusi keuangan nasional mencapai 91% pada 2025, 93% pada 2029, dan 98% pada 2045. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan sinergi dari seluruh pihak, termasuk pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat.
“Target ini tidak dapat dicapai hanya oleh pemerintah dan OJK, tetapi memerlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk pekerja informal dan PMI. Produk simpanan dan pembiayaan produktif adalah instrumen penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga,” katanya.
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi tentang kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal, perencanaan keuangan keluarga, sistem pembayaran dan layanan remitansi yang aman bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), investasi yang sehat, serta fasilitas keuangan dan pembiayaan produktif dari Bank NTT.
Polantoro berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan yang sah serta diawasi oleh OJK. Ia juga mengimbau masyarakat untuk selalu memastikan produk dan layanan keuangan yang digunakan telah terdaftar dan diawasi oleh OJK, serta meneliti rasionalitas penawaran agar terhindar dari praktik keuangan ilegal.








