BELU,mediatihar.com – “Lihat kebunku penuh dengan bunga,” mungkin bukan sekadar lirik lagu bagi Jane Natalia Suryanto saat ini. Di Desa Fatubaa, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, lirik itu mewujud nyata menjadi hamparan tanaman hortikultura yang siap panen.
Komitmen Jane untuk membangun Nusa Tenggara Timur (NTT) terbukti tak surut meski kontestasi Pemilu 2024 telah usai. Kegagalan politik justru menjadi bahan bakar semangatnya untuk terus hadir membantu rakyat lewat jalur pertanian dan sosial.
Pada Rabu sore (10/12/2025), suasana di “Kebun Jane” tampak sibuk dengan aktivitas panen raya yang melibatkan puluhan warga lokal.
Koordinator Kebun Jane, Samson, mengajak berkeliling melihat hasil kerja keras timnya. Ia menjelaskan strategi tanam bertahap yang diterapkan agar pasokan ke pasar tidak pernah putus.
”Saat ini kita sedang panen tomat tahap satu sebanyak 17.000 pohon. Sementara itu, 15.000 pohon tahap dua sudah masuk fase pembungaan. Target kami, panen di lokasi ini akan selalu tersedia dan berkelanjutan,” jelas Samson.
Tak hanya tomat, kebun ini juga dipenuhi cabai kecil, cabai besar, cabai keriting, wortel, sayuran, hingga buah-buahan seperti semangka dan durian. Samson menyebutkan, pemilihan tanaman cabai didasari riset pasar di mana harga cabai sering melambung tinggi akibat pasokan dari luar daerah.
”Merespons harga pasar itu, kami menanam 20.000 pohon cabai besar dan 6.000 pohon cabai keriting,” tambahnya.
Jane Natalia Suryanto menjelaskan bahwa visi utamanya bukan sekadar bisnis, melainkan pemberdayaan. Ia prihatin melihat banyak petani senior yang memiliki keterampilan mumpuni namun gagal karena ketiadaan modal untuk membeli pupuk dan pestisida.
”Para petani senior yang kesulitan ekonomi itu kami ajak bekerja di sini. Kami gaji mereka setiap bulan sehingga hidup mereka lebih layak dengan pendapatan pasti,” ujar Jane.
Hingga kini, total tenaga kerja di Kebun Jane mencapai 50 orang. Hal ini termasuk memberdayakan kaum ibu atau “mama-mama” setempat yang dilibatkan dalam proses pemetikan cabai dan tomat.
Kualitas hasil panen dari Kebun Jane ternyata menarik minat pembeli dari negara tetangga. Jane mengungkapkan bahwa mayoritas hasil panen, khususnya tomat dan cabai, dibeli langsung oleh pedagang dari Timor Leste yang datang ke lokasi.
”Volume pembelian dari Timor Leste saat ini bahkan lebih banyak dibandingkan pasar Atambua dan Kupang,” kata Jane.
Harga jual pun kompetitif. Cabai varietas Dewata dijual di kisaran Rp30.000 per kilogram, sedangkan tomat dijual Rp300.000 per keranjang. Untuk semangka, Jane mematok harga Rp10.000 per buah untuk varian biasa, sementara semangka kuning dijual lebih mahal karena kelangkaannya.
Produktivitas kebun ini pun terbilang fantastis. Tercatat panen cabai telah mencapai 3,7 ton, tomat mencapai 5 ton, dan semangka sebanyak 2 ton.
Menutup perbincangan, Jane memaparkan mimpi besarnya. Ia ingin mengagresifkan fungsi kebun ini. Ke depan, ia merancang konsep pertanian terintegrasi (integrated farming) yang menggabungkan perkebunan, peternakan, dan perikanan darat.
”Saya ingin kebun ini jadi pusat penelitian. Kita akan menanam hal baru yang belum pernah ada di NTT. Seperti sekarang, kami sukses memanen varian semangka bibit luar negeri. Ini bukti tanah kita subur jika dikelola dengan inovasi,” pungkasnya.














