Filosofi di Balik Nama ‘Mediatihar’: Mengangkat Identitas Lokal ke Panggung Informasi

Opini : Haman Hendrikus, Pemimpin Redaksi Mediatihar.Com

​BELU,Mediatihar Com– Pemimpin Redaksi Mediatihar, Haman Hendrikus, secara resmi mengungkapkan alasan di balik pemilihan nama “Tihar” bagi portal beritanya. Pemilihan nama tersebut bukan sekadar label, melainkan sebuah manifestasi identitas budaya dari wilayah Belu, Malaka, dan Timor Tengah Utara (TTU).

​Dalam tradisi masyarakat setempat, Tihar merupakan alat musik perkusi sejenis genderang atau tambur yang memiliki fungsi krusial melampaui sekadar instrumen musik. Menurut Haman, instrumen ini adalah simbol komunikasi massa yang autentik.

​Secara filosofis, suara Tihar dalam konteks pemberitaan mengandung makna mendalam mengenai fungsi media di tengah masyarakat. Haman menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama yang mendasari pemilihan nama ini:

Tihar alat musik tradisional kabupaten Belu

​Penanda Kehadiran (Agenda Setting): Dahulu, bunyi Tihar menandakan adanya informasi penting atau panggilan dari tokoh adat. Mediatihar diharapkan mampu menjalankan fungsi agenda setting, yakni mengarahkan perhatian publik pada isu-isu krusial.

​Kejujuran Getaran: Tihar menghasilkan suara dari pukulan langsung pada kulit hewan, yang melambangkan transparansi. Hal ini menjadi komitmen redaksi untuk menyajikan berita apa adanya tanpa distorsi atau manipulasi.

​Suara Bagi yang Tak Bersuara: Media ini mengemban misi sebagai “pengeras suara” bagi masyarakat kecil (voice of the voiceless), memastikan aspirasi mereka terdengar oleh pemangku kebijakan.

​Di tengah gempuran informasi digital dan risiko penyebaran hoaks, filosofi Tihar mengingatkan insan pers untuk kembali ke akar jurnalistik: turun ke lapangan dan merasakan langsung dinamika masyarakat.

​”Seorang wartawan harus merasakan ‘getaran’ masalah secara langsung untuk melaporkannya dengan jiwa kemanusiaan,” ujar Haman.

​Selain sebagai penjaga harmoni sosial, Tihar juga memiliki fungsi alarm. Dalam tradisi lokal, nada cepat pada Tihar sering digunakan sebagai tanda peringatan bahaya atau bencana. Hal ini selaras dengan fungsi jurnalistik sebagai watchdog (anjing penjaga) yang memberikan peringatan dini terhadap ketidakadilan maupun ancaman terhadap demokrasi.

​Melalui nama Mediatihar, redaksi berkomitmen untuk menjaga otoritas pesan dan kesucian fakta. Kehadiran media ini diharapkan tidak hanya sekadar memberikan informasi, tetapi juga menciptakan resonansi yang memicu perubahan positif dan menjaga integritas sosial di wilayah NTT dan sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *