Program presiden Prabowo MBG Belu Jadi Harapan Pemuda Putus Sekolah dan Ibu Rumah Tangga.
ATAMBUA, Mediatihar.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat di perbatasan RI-RDTL. Tak sekadar memperbaiki gizi siswa, kehadiran Satuan Pelayanan Komposisi Dapur MBG Lalosuk di Desa Manleten, Kabupaten Belu, kini menjadi tumpuan ekonomi baru bagi warga lokal, mulai dari pemuda putus sekolah hingga ibu rumah tangga.
Bagi Lukas Pereira, pemuda asal Haliulun yang sempat putus sekolah, program ini adalah jawaban atas kesulitan mencari kerja di wilayah perbatasan. Bergabung sebagai staf Divisi Persiapan, ia mengaku sangat terbantu dengan kebijakan rekrutmen yang inklusif.
”Terima kasih Pak Prabowo. Program ini sangat membantu kami yang tidak lanjut kuliah untuk bisa bekerja dan membantu perekonomian keluarga,” ujar Lukas saat di wawancara mediatihar di sela aktivitasnya, Selasa (21/4/2026).
Senada dengan Lukas, Yuliana Sumiyati Kasimin, seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak, merasakan perubahan signifikan dalam kesejahteraan keluarganya. Sebagai staf di divisi yang sama, Yuliana mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga dengan jadwal kerja delapan jam, mulai pukul 10.00 WITA.
”Selain mendapat banyak teman dan saudara, ekonomi keluarga saya sangat terbantu. Satu anak saya kebetulan dapat beasiswa kuliah, dan dua lainnya masih sekolah. Saya sangat berharap dapur ini terus berjalan lancar tanpa kendala,” ungkap Yuliana penuh haru. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden, pengelola dapur, serta seluruh tim yang terlibat.
Kepala Satuan Pelayanan Komposisi Dapur MBG Lalosuk, Maximilian Un, menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal adalah prioritas utama. Dari total 50 personel, sebanyak 47 orang merupakan warga setempat yang direkrut tanpa syarat ijazah formal yang kaku.
”Kami tidak menitikberatkan pada ijazah, melainkan pada niat dan komitmen untuk bekerja. Kami ingin program ini benar-benar menyentuh mereka yang selama ini sulit mengakses lapangan kerja,” jelas Maximilian.
Meski rekrutmen bersifat fleksibel, aspek profesionalisme tetap dijaga ketat. Seluruh tenaga kerja telah mengantongi sertifikasi food handler dari Dinas Kesehatan Kabupaten Belu demi menjamin higienitas pangan sesuai standar Badan Gizi Nasional.
Menanggapi adanya temuan ulat pada sayuran, Maximilian memberikan penjelasan transparan. Ia menyebutkan hal tersebut merupakan risiko dari penggunaan bahan pangan organik yang bebas pestisida kimia.
”Itu adalah ulat sayur hijau yang warnanya samar dengan daun. Secara teknis, ini indikator sayur kami organik dan sehat. Namun, kami memohon maaf atas kelalaian tersebut dan memastikan divisi persiapan akan lebih teliti dalam proses pembersihan ke depannya,” tegasnya.
Untuk menjamin kualitas layanan bagi 30 sekolah dan 3 Posyandu di wilayah Tasifeto Timur hingga Atambua Kota, dapur MBG Lalosuk menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat melalui empat divisi:
Divisi Persiapan: Pembersihan bahan baku (Siang – Malam).
Divisi Produksi: Pengolahan makanan (Mulai jam malam).
Divisi Pemorsian: Pengemasan (Pukul 03.00 – 09.30 WITA).
Divisi Distribusi: Pengiriman tepat waktu ke titik sasaran.
Setiap pekerja diwajibkan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap guna memastikan makanan yang sampai ke tangan anak-anak di perbatasan tetap bersih, sehat, dan bergizi.








