penandatanganan kerja sama (MoA) antara Pemerintah Kabupaten Belu UNAIR di Surabaya.
SURABAYA,mediatihar.com – Pemerintah Kabupaten Belu serius melakukan transformasi besar-besaran di kawasan Sonis Laloran. Lahan milik Pemda tersebut kini diproyeksikan menjadi lumbung peternakan modern yang akan menyokong program swasembada pangan nasional.
Langkah ambisius ini diperkuat melalui penandatanganan kerja sama (MoA) antara Pemerintah Kabupaten Belu dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) di Surabaya, Rabu (4/2/2026). Kolaborasi ini menitikberatkan pada pendampingan akademis untuk mengoptimalkan potensi lahan dan penguatan kapasitas peternak di Belu.
Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, menegaskan bahwa kunci utama dalam membangun lumbung ternak yang berkelanjutan adalah ketersediaan pakan. Saat ini, Sonis Laloran telah dijadikan pilot project dengan penanaman rumput pakan seluas 100 hektare.
”Kami tidak ingin sekadar memelihara ternak, tapi membangun ekosistemnya. Di Sonis Laloran, pakan sudah kami siapkan secara gotong royong oleh para ASN. Silase (pakan fermentasi) sudah jadi dan siap digunakan,” ungkap Bupati Willy Lay.
Menurut Bupati, kesiapan pakan di Sonis Laloran menjadi syarat mutlak sebelum mendatangkan bibit unggul. “Target kami pada Juni atau Juli mendatang, saat pakan sudah tersedia melimpah, kami akan mendatangkan sapi perah dari Jawa Timur untuk dikembangkan di sana,” tambahnya.
Kerja sama dengan Pascasarjana UNAIR bertujuan agar pengelolaan di Sonis Laloran tidak lagi menggunakan metode tradisional, melainkan pendekatan sains dan manajemen SDM yang terukur.
Bupati Willy Lay berharap pendampingan dari UNAIR mampu melahirkan peternak-peternak terampil yang memiliki kapasitas mumpuni. Hal ini krusial agar kawasan tersebut mampu menyuplai kebutuhan susu untuk program “Asta Cita” Presiden RI, sekaligus mengembalikan posisi Belu sebagai eksportir ternak seperti era 1970-an.
Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR, Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, menyatakan kesiapannya untuk menerjunkan tenaga ahli guna menyukseskan proyek Sonis Laloran. Ia menekankan bahwa UNAIR akan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu untuk mendukung pengembangan daerah tersebut.
”Kami memiliki program studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Sains Hukum, hingga Magister Kebencanaan. Semua ini bisa dimanfaatkan untuk memastikan bahwa proyek lumbung ternak di Sonis Laloran berjalan secara profesional, legal, dan tangguh terhadap tantangan lingkungan,” jelas Dr. Achmad.
Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah daerah dan kepakaran akademis, Sonis Laloran diharapkan bukan hanya menjadi hamparan lahan hijau, melainkan simbol kebangkitan ekonomi baru dari wilayah perbatasan Indonesia.








