Visi Swasembada Prabowo Terganjal di Belu:Kontrak Habis, Adhi Karya ‘Tuding’ Kinerja Subkontraktor Sebagai Biang Kerok”

BERITA, DAERAH, EKONOMI262 Views

ATAMBUA,Mediatihar.Com – Pihak pelaksana proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Kabupaten Belu, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, akhirnya buka suara terkait mandeknya proyek strategis senilai Rp102,145 miliar tersebut. Perwakilan pelaksana PT Adhi Karya, Joni Tefa, mengakui adanya keterlambatan signifikan yang melampaui batas kontrak 31 Desember 2025.

​Dalam keterangannya, Joni Tefa mengungkapkan bahwa kendala utama di lapangan berakar pada performa mitra kerja mereka. Ia menyoroti kinerja CV Tonber selaku subkontraktor yang dinilai tidak mampu memenuhi target dan spesifikasi kerja yang telah ditetapkan.

​”Performance sub-kontraktor tidak sesuai ekspektasi,” ujar Joni Tefa singkat saat dikonfirmasi terkait minimnya progres fisik di beberapa titik irigasi, Selasa (6/1/2026).

​Joni menjelaskan bahwa ketidakmampuan subkontraktor dalam menyediakan tenaga kerja yang memadai menjadi pemicu utama proyek ini kehilangan momentum.

Pernyataan ini sekaligus merespons kondisi di lapangan, khususnya di DI Raimetan dan DI Raiikun, yang terpantau masih memiliki progres nol persen meski waktu kontrak telah habis.

​Meski Joni Tefa menekankan pada sisi manajerial subkontraktor, isu di lapangan menunjukkan adanya kendala yang lebih kompleks. Beredar kabar bahwa rendahnya standar upah yang ditawarkan membuat para tukang enggan bekerja, sehingga mobilisasi tenaga kerja terhambat.

​Kondisi ini mengakibatkan aktivitas di tiga Daerah Irigasi (DI) menjadi lumpuh:
​DI Halilulik: Pekerjaan pengecoran dan beronjong stagnan karena minimnya jumlah pekerja.
​DI Raimetan & Raiikun: Belum ada aktivitas fisik sama sekali (nol progres).

​Pernyataan Joni Tefa tersebut memicu reaksi keras dari Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Belu, Ronald Dalung. Menurutnya, alasan teknis maupun masalah internal dengan subkontraktor seharusnya tidak menjadi beban bagi rakyat, terutama para petani yang kini terancam gagal tanam.

​”Kami minta kontraktor segera tambah tukang dan lembur. Sekarang sudah puncak musim hujan, air sangat dibutuhkan,” tegas Ronald saat meninjau lokasi.

​Kini, PT Adhi Karya di bawah koordinasi Joni Tefa menghadapi tantangan besar untuk menuntaskan pekerjaan di masa perpanjangan waktu (addendum). Jika tidak segera diselesaikan, ketahanan pangan di wilayah perbatasan RI–Timor Leste terancam ambruk akibat saluran irigasi yang dibongkar namun tak kunjung berfungsi.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *