Suku Sambete-Laknini Gelar Ritual ‘Ta Karau’ Puncak Peresmian Rumah Adat

BERITA, DAERAH, SOSBUD76 Views
Ket: Prosesi Ta krau(potong kerbau) merupakan puncak dari Acara peresmian Rumah Adat ( foto:MT).

ATAMBUA, MEDIATIHAR.COM – Suku Sambete-Laknini menggelar ritual adat Ta Karau (pemotongan kerbau) sebagai puncak prosesi peresmian rumah adat (Uma Adat) di Dusun Umamakerek, Desa Naitimu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (26/7/2026).

​Tradisi turun-temurun ini dilaksanakan bukan sekadar sebagai simbol perayaan fisik atas rampungnya bangunan, melainkan bentuk penghormatan sakral kepada leluhur. Selain itu, ritual ini bertujuan menjaga keseimbangan komunikasi sosial dan mempererat tali persaudaraan antarwarga suku.

​Prosesi penyembelihan kerbau dipimpin langsung oleh Meo (Panglima Adat) Suku Sambete-Laknini, Yopi Besin. Sebelum ritual dimulai, Lamber Fahik dari Suku Matbukar membacakan Hasas Naaran, yaitu doa khusus untuk menyebutkan nama seluruh leluhur. Turut serta dalam prosesi tersebut Nikolas Taek (Marak Ah’u Ba Krau  dari suku Sose Halek) serta perwakilan dari Suku Dikurwar (Tona) yang membawakan Tatera (anjang-anjang sebelum pemotongan kerbau).

​Dalam prosesi tersebut, Meo Yopi Besin berhasil menyembelih kerbau hanya dalam sekali tebas. Secara adat, keberhasilan ini diyakini memiliki makna mendalam bahwa seluruh prosesi yang dilakukan sudah benar dan telah mendapat restu dari para leluhur.

​Setelah pemotongan, rangkaian acara dilanjutkan dengan tiga ritual inti:

Hatetu (Sesajen): Penyerahan sesajen kepada leluhur sebagai ungkapan rasa syukur.

Meo Na Krau War: Ritual khusus di mana Panglima Adat memakan daging mentah dari kerbau kurban.

Prosesi Kabah: Prosesi penerimaan Matakmalirin (berkat), di mana ketua suku menandai dahi para anak cucu menggunakan darah kerbau.

​Dalam kebudayaan masyarakat Timor, kerbau (karau) memiliki nilai filosofis tinggi karena melambangkan kekuatan, kekayaan, serta menjadi medium spiritual yang menghubungkan manusia dengan arwah leluhur. Masyarakat adat setempat meyakini bahwa darah kerbau yang ditumpahkan ke bumi menjadi simbol penyatuan dunia roh dan manusia untuk memperkokoh fondasi Uma Adat.

​Hewan yang dipilih dalam ritual ini harus memenuhi kriteria khusus, seperti kondisi fisik yang sehat, berukuran besar, dan memiliki warna tertentu yang melambangkan kesuburan. Selama prosesi berlangsung, pemuka adat melantunkan doa-doa khusus guna memohon perlindungan, persatuan, dan kelimpahan berkat bagi seluruh anak suku.

​Seturut tradisi, daging kurban tidak dibagikan secara sembarangan. Struktur pembagiannya mengikuti hukum adat dan sistem kekerabatan yang ketat. Pola ini berfungsi mempertegas peran sosial masing-masing keluarga sekaligus memperkuat solidaritas kolektif di dalam suku.

​Selain kental dengan nuansa spiritual, ritus Ta Karau menjadi instrumen penting dalam menjaga eksistensi identitas komunal. Melalui peresmian ini, ditegaskan kembali bahwa Uma Adat yang berdiri merupakan milik bersama, bukan milik individu.

​Kepala Suku Sambete-Laknini, Stefanus Fahik, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian prosesi Ta Karau ini merupakan kewajiban adat yang sakral dan mengikat bagi generasi penerus suku.

​Sementara itu, Don Fahik selaku tokoh masyarakat setempat, menyatakan dukungannya terhadap kelestarian adat ini di sela-sela acara.

​”Ritual Ta Karau ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita tidak lupa akan akar budayanya. Rumah adat bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol pemersatu. Kami akan terus mendukung program-program pelestarian kebudayaan seperti ini agar identitas daerah tetap terjaga di tengah arus modernisasi,” ujar Don .

​Momentum berkumpulnya seluruh anggota suku ini juga dimanfaatkan sebagai ruang pendidikan budaya secara langsung. Diharapkan, generasi muda dapat melihat, memahami, dan terus melestarikan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.

​Sebagai bentuk persaudaraan yang kuat, ritual ini juga dihadiri oleh perwakilan dari suku-suku kerabat, antara lain Suku Sose Halek, Taekto, Dudu, Tona, dan Naes.