
BELU,MEDIATIHAR.COM — Pemerintah Kabupaten Belu terus mematangkan program prioritas pemenuhan air bersih bagi masyarakat. Bupati Belu, Willybrodus Lay, bersama Tim Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) meninjau langsung lokasi sumber air di Desa Sadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT, Kamis (23/7/2026).
Peninjauan ini merupakan bagian dari realisasi program “Satu Desa Satu Sumur Bor” yang dicanangkan oleh pasangan Bupati Willy Lay dan Wakil Bupati Vicente Hornai Gonsalves. Program tersebut ditargetkan menjadi solusi atas persoalan klasik krisis air bersih yang kerap melanda wilayah Belu saat musim kemarau.
Dalam peninjauan tersebut, Bupati Belu memimpin langsung proses pematokan titik sumber air yang akan menjadi lokasi pembangunan sumur bor. Sementara itu, Tim Geologi UGM melakukan identifikasi lapisan tanah dan potensi debit air menggunakan alat detektor modern, Enhanced Water Finding Marvel. Alat ini sengaja diadakan pemda guna memastikan akurasi titik pengeboran.
Warga Desa Sadi menyambut baik rencana pembangunan ini. Pasalnya, Desa Sadi merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam peta rawan kekeringan di Kabupaten Belu, terutama pada periode Juli hingga November setiap tahunnya.
”Syukurlah semoga terlaksana. Kami memang tiap tahun kesulitan air di musim kemarau. Kalau ada sumur bor, kami tidak perlu jalan jauh lagi cari air,” ujar salah seorang warga setempat.
Pemerintah Kabupaten Belu di bawah kepemimpinan Willy Lay dan Vicente Hornai Gonsalves menempatkan pemenuhan air bersih sebagai program kerja utama. Terdapat tiga pilar strategis yang saat ini tengah digencarkan oleh Pemkab Belu:
1. Program “Satu Desa Satu Sumur Bor”
Program ini difokuskan untuk membuka akses air bersih di wilayah yang rentan krisis secara bertahap. Pada Tahun Anggaran (TA) 2025, program ini telah terealisasi di sejumlah titik, antara lain:
Desa Leosama
Trans Jokowi Fatuketi
Dusun Salala dan Dusun Weliurai (Desa Kabuna)
Weaituan dan Kelurahan Umanen
Dusun Naresa (Desa Persiapan Raidikur)
Dusun Tala (Desa Tukuneno), Maumutin, Fatubenao, Tasain, dan Dilumil.
Tambahan: Dua unit sumur bor bersumber dari APBN juga telah dibangun di Pasar Sabete Manleten dan SDI Asulait.
2. Pembangunan Bendungan Welikis untuk Jangka Panjang
Untuk ketahanan air jangka panjang, Pemkab Belu terus mengawal kelanjutan Proyek Bendungan Welikis. Bendungan ini diproyeksikan menjadi penyedia air baku lintas sektor, mulai dari pemenuhan kebutuhan rumah tangga hingga irigasi pertanian.
Proyek ini telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Pemkab Belu saat ini intens berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi NTT untuk percepatan teknis serta regulasi.
3. Transformasi Sanitasi Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK)
Selain air bersih, Pemkab Belu juga menggenjot pembangunan ribuan tangki septik individual melalui DAK demi mewujudkan akses air minum dan sanitasi aman 100 persen bagi masyarakat.
Bupati Belu, Willybrodus Lay, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur air di Kabupaten Belu bukan sekadar proyek fisik musiman, melainkan fondasi bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat.
”Air bersih adalah kebutuhan dasar. Kami tidak membangun infrastruktur hanya sebagai proyek fisik, tapi sebagai fondasi ketahanan air daerah, penopang kesehatan, dan penggerak ekonomi rakyat,” tegas Willy Lay.
Peninjauan di Desa Sadi ini menegaskan komitmen Pemkab Belu dalam mengimplementasikan visi “Gerak Cepat Pemimpin Dambaan Rakyat Belu: Memperkuat Akses Air Bersih dan Ketahanan Air Daerah.”***