Margaretha Bui, pedagang sayur di Pasar Baru Atambua, Kabupaten Belu, wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Atambua,Mediatihar.Com– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan dampak ganda (multiplier effect). Selain fokus pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), program ini terbukti efektif menggerakkan roda ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput, khususnya bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Implementasi program yang dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia ini membuka peluang pasar baru. Salah satu yang merasakan dampak positifnya adalah Margaretha Bui, pedagang sayur di Pasar Baru Atambua, Kabupaten Belu, wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Margaretha kini dipercaya menjadi pemasok tetap bahan pangan untuk dua dapur pelaksana program MBG di wilayah tersebut, yakni SPPG Manumutin Kota Atambua dan SPPG Atambua Barat.
”Menjadi pemasok tetap sangat membantu usaha saya. Barang dagangan jadi lebih cepat terjual dan kepastian pembelinya sudah ada,” ujar Margaretha saat ditemui di lapaknya, Selasa (28/4/2026).
Sebagai pemasok, ia menyediakan berbagai kebutuhan pangan mulai dari sayuran segar seperti buncis, sawi, kentang, wortel, hingga kacang panjang dan bumbu dapur. Margaretha menegaskan bahwa setiap bahan yang dikirim telah melalui proses seleksi ketat untuk menjamin kebersihan dan kesegaran sesuai standar konsumsi siswa.
”Pengiriman disesuaikan dengan menu harian yang ditetapkan pengelola. Misalnya, jika menu hari ini membutuhkan kacang panjang, maka itu yang kami siapkan. Semua berjalan sesuai permintaan,” jelasnya.
Telah bergabung sejak program ini dicanangkan dua tahun lalu, Margaretha mengakui adanya tantangan dalam penyediaan bahan baku. Namun, ia merasa keuntungan ekonomi yang didapat berdampak signifikan terhadap kesejahteraan keluarganya.
”Keuntungan yang saya dapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan bisa digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak,” ungkapnya.
Ia berharap program MBG dapat terus berjalan secara berkelanjutan dan konsisten. Menurutnya, program ini menciptakan simbiosis mutualisme yang nyata: para siswa mendapatkan asupan gizi berkualitas, sementara petani dan pedagang kecil di daerah mendapatkan kepastian pasar untuk hasil bumi mereka.














