Fridolin Besin ajak petani Bauatok,Desa manleten, kecamatan Tasifeto timur manfaatkan daun segar untuk pembuatan pupuk organik.
BELU,Mediatihar.Com – Merespons keluhan petani terkait keterbatasan pupuk subsidi, Staf Ahli Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Belu sekaligus ibu Wakil Bupati Belu, Maria Fridolin Besin, mengambil langkah cepat. Pihaknya menghadirkan instruktur dari Tani Merdeka untuk memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik di Dusun Bauatok, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur,Rabu(25/03/26).
Kegiatan ini difokuskan pada pengolahan Pupuk organik yang di fermentasi dari daun aisukar segar dan dmudah di dapat di sekitar masyarakat menjadi kompos sebagai solusi mandiri bagi petani hortikultura di wilayah Bauatok dan Lalosuk.
Maria Fridolin Besin menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul setelah melihat potensi besar petani lokal yang selama ini masih memiliki ketergantungan tinggi pada pupuk kimia berbayar.
”Kenapa saya mau buat kegiatan di sini? Karena saya melihat banyak sekali petani hortikultura di daerah Bauatok dan Lalosuk ini, tetapi mereka masih membeli pupuk. Makanya saya meminta kesediaan instruktur datang memberikan pelatihan agar masyarakat bisa membuat sendiri. Ternyata ini diterima dengan baik karena caranya sangat mudah, murah, dan sederhana,” ujar Maria.
Menurutnya, penggunaan kompos dari daun aisukar segar ini tidak hanya membantu mengatasi kelangkaan pupuk subsidi, tetapi juga mengoptimalkan bahan alam yang selama ini terbuang atau dilupakan.
Pengolahan ini diharapkan mampu meningkatkan wawasan petani serta mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik yang kurang ramah lingkungan.
Senada dengan hal tersebut, Casimiro de Jesus Sanches selaku instruktur dari Tani Merdeka, mengapresiasi antusiasme para petani. Meski sudah lama bergelut di bidang hortikultura, para petani dinilai tetap rendah hati untuk mempelajari teknik pemupukan yang lebih efektif.
”Tempat yang kita datangi ini sungguh luar biasa. Sekalipun mereka sudah menjadi pelaku hortikultura, mereka masih mau belajar untuk lebih mengetahui cara menyiapkan dan mengaplikasikan pupuk. Mereka sangat antusias dan berharap ke depan terus dibimbing untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal,” jelas Casimiro.
Ia memaparkan bahwa bahan baku utama yang digunakan adalah daun aisukar segar yang melimpah di sekitar lingkungan petani. Dengan prinsip “Mudah, Murah, dan Sederhana”, petani diajarkan untuk memanfaatkan limbah organik menjadi media tanam kaya nutrisi.
”Kami menggunakan daun-daun yang ada di sekitar petani. Bahannya mudah didapat, biayanya murah, dan bisa dibuat sendiri. Kami memotivasi petani agar mampu menyediakan pupuk secara mandiri di lahan mereka masing-masing,” tambahnya.
Pembuatan pupuk organik dari daun aisukar diketahui mengandung unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Selain memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air, metode ini menjadi solusi lingkungan untuk mengurangi polusi udara akibat pembakaran sampah daun saat musim kemarau.
Melalui pelatihan ini, diharapkan masyarakat Bauatok dan sekitarnya dapat menekan biaya operasional pertanian dan beralih ke sistem pertanian berkelanjutan yang lebih ramah alam.














