ATAMBUA,Mediatihar.Com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan prima, khususnya terkait pemenuhan hak pangan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Fokus utama ini dilakukan untuk memastikan para penghuni Lapas mendapatkan asupan nutrisi yang layak demi menunjang kesehatan fisik selama menjalani masa pembinaan.
Pada Senin (29/12/2025), aktivitas di dapur Lapas Atambua tampak sibuk sejak dini hari. Petugas dapur bersama WBP yang telah terlatih sebagai koki berkolaborasi menyiapkan menu sarapan sesuai standar kesehatan.
Kepala Subseksi Perawatan, Yosef Siga, yang memantau langsung proses pengolahan, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan sistem siklus menu yang ketat.
”Hari ini masuk dalam siklus menu hari ke-9. Menu yang disajikan terdiri dari nasi putih, telur rebus, sayur segar, dan tambahan nutrisi berupa bubur kacang hijau. Kami sangat teliti mengatur jadwal ini agar distribusi gizi, mulai dari protein hingga vitamin, terserap dengan baik oleh WBP,” jelas Yosef.
Ia menambahkan bahwa variasi menu sangat penting untuk mencegah kebosanan sekaligus menjaga kualitas rasa agar menyerupai masakan rumah.
Kepala Lapas (Kalapas) Atambua, Bambang Hendra Setyawan, menegaskan bahwa seluruh proses pengolahan makanan berada di bawah pengawasan ketat. Menurutnya, dapur Lapas Atambua telah memiliki Sertifikat Layak Higiene Sanitasi.
”Kami memastikan setiap butir nasi dan lauk yang disajikan diolah di dapur yang tersertifikasi. Proses memasak hingga penyajian harus bebas dari kontaminasi bakteri atau zat berbahaya. Kesehatan fisik adalah fondasi utama agar WBP dapat mengikuti program pembinaan dengan optimal,” tegas Bambang.
Keterlibatan WBP sebagai koki juga menjadi bagian dari program kemandirian. Robert, salah seorang WBP yang bertugas di dapur, mengaku bangga atas kepercayaan yang diberikan.
“Kami diingatkan untuk selalu menjaga kebersihan tangan dan peralatan. Memasak untuk ratusan orang adalah tanggung jawab besar bagi kami,” ungkapnya.
Pihak Lapas meyakini bahwa kualitas makanan yang terjamin berdampak langsung pada stabilitas keamanan dan ketertiban.
WBP yang sehat dan terpenuhi kebutuhan dasarnya cenderung memiliki kondisi psikologis yang stabil, sehingga meminimalisir potensi konflik dan meningkatkan partisipasi dalam kegiatan pembinaan lainnya.








