BELU, Mediatihar.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bergerak cepat merespons aksi viral guru dan siswa SDK Laninis yang bertaruh nyawa menerjang arus sungai demi mencapai sekolah di Desa Lawalutolus, Kecamatan Tasifeto Barat.
Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, menginstruksikan tim teknis untuk segera meninjau lokasi guna memetakan kebutuhan infrastruktur penyeberangan yang mendesak.
Plt. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Belu, Ferdinand Hale Kin, ST, mengonfirmasi bahwa tim dari Bidang Bina Marga dijadwalkan turun ke lapangan pada kamis (22/1/2026).
”Kami diperintahkan Pak Wakil Bupati untuk langsung melihat kondisi riil di lapangan dan melakukan pengukuran. Hasil survei ini akan menjadi dasar pengusulan pembangunan ke Pemerintah Pusat,” ujar Ferdinand di ruang kerjanya, Rabu(21/1/2026).
Ferdinand menambahkan, mengingat skala proyek tersebut, pihaknya akan mengupayakan pendanaan melalui Kementerian PUPR. “Kami akan usulkan melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK), Inpres Jalan Daerah (IJD), maupun sumber pendanaan lainnya,” imbuhnya.
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari DPRD Kabupaten Belu. Anggota DPRD Dapil setempat, Sergio Natalino Kansi Putra, menegaskan bahwa keselamatan di sektor pendidikan tidak boleh dikompromikan meskipun daerah memiliki keterbatasan fiskal.
”Ini situasi yang sangat berbahaya. Secara jujur, memang ada keterbatasan keuangan daerah, namun anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan nyawa manusia,” tegas Sergio.
Politisi ini menambahkan bahwa Komisi III DPRD Belu akan mendesak pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah darurat sembari mengupayakan dana dari tingkat provinsi maupun pusat.
”Kami mendorong pemerintah daerah segera mencari solusi alternatif agar kegiatan belajar mengajar tidak lagi bertaruh nyawa,” pungkasnya.
Sebelumnya, video pendek yang memperlihatkan para guru SDK Laninis membentuk rantaian manusia untuk menyeberangi luapan sungai bersama siswa viral di media sosial.
Matilda Soi, salah satu guru di sekolah tersebut, mengungkapkan bahwa musim penghujan menjadi beban psikologis bagi para pendidik dan murid karena harus melintasi dua sungai untuk sampai ke sekolah.
”Saat musim hujan kami stres. Seringkali harus menunggu berjam-jam sampai banjir reda baru bisa melintas. Harapan kami, pemerintah segera membangun jembatan demi keselamatan dan masa depan anak-anak,” ungkap Matilda penuh harap.
