Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Lalosuk yang terletak di Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu.
ATAMBUA,Mediatihar.com – Satuan Pelayanan Pemunuhan Gizi Makan Bergizi Gratis (MBG) Lalosuk yang terletak di Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu terus mengoptimalkan pelayanan gizi bagi ribuan siswa. Hingga saat ini, dapur tersebut melayani 30 sekolah dan 3 Posyandu yang tersebar di wilayah Tasifeto Timur dan sebagian Atambua Kota.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tasifeto Timur, Maximilian Un, mengungkapkan bahwa operasional dapur yang telah berjalan sejak 10 Juni 2025 ini didukung oleh 50 personel.
”Kami memiliki 47 karyawan lapangan dan 3 staf inti, termasuk saya sendiri, satu ahli gizi, dan satu akuntan sebagai pengawas keuangan,” ujar Maxi saat memberikan keterangan, Selasa (21/4).
Salah satu dampak positif untuk masyarakat dengan kehadiran dapur MBG ini adalah penyerapan tenaga kerja lokal. Maxi menjelaskan bahwa proses rekrutmen tidak menitikberatkan pada ijazah formal, melainkan pada niat dan semangat kerja masyarakat sekitar untuk bekerja secara profesional.
Meskipun demikian, standar kualitas tetap menjadi prioritas utama. Sebelum bertugas, seluruh tenaga kerja yang berstatus relawan ini telah mendapatkan pelatihan khusus dari Dinas Kesehatan Kabupaten Belu.
”Mereka dilatih sebagai penjamah makanan sesuai prosedur Badan Gizi Nasional dan Kementerian Kesehatan. Fokusnya adalah bagaimana memproses makanan secara higienis dan tepat,” tambahnya.
Menanggapi adanya keluhan kecil terkait temuan ulat pada sayuran, Maxi memberikan penjelasan transparan. Ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan dampak dari komitmen dapur MBG dalam menggunakan bahan pangan organik.
”Kami harus membedakan antara ulat sayur dan ulat pembusukan. Yang ditemukan terkadang adalah ulat sayur yang warnanya hijau samar, sehingga luput dari pandangan petugas saat penyortiran. Ini justru indikator bahwa sayur kami organik dan bebas dari bahan kimia berbahaya, Namun ini juga menjadi catatan evaluasi kami untuk lebih teliti dalam proses persiapan , pemorsian dan pendistribusian makanan sehingga meminimalisir kesalahan operasional yag terjadi dilapangan dan kami beromitmen bekerja yag terbaik dari hari ke hari sehingga tidak ada seditpun kesalahan yang terjadi demi meningkatkan gizi anak”jelas Maxi.
Ia memastikan pihak manajemen akan lebih teliti dalam proses pembersihan (divisi persiapan) agar kualitas makanan tetap terjaga tanpa beralih ke sayuran non-organik yang menggunakan pestisida kimia.
Operasional dapur MBG Lalosuk dibagi ke dalam beberapa divisi dengan jadwal kerja yang ketat untuk memastikan makanan tiba di sekolah tepat waktu:
Divisi Persiapan: Membersihkan dan memotong bahan baku (Siang hingga Malam).
Divisi Produksi: Mengolah dan memasak bahan makanan (Mulai jam malam).
Divisi Pemorsian: Menyiapkan porsi ke dalam wadah (Pukul 03.00 – 09.30 WITA).
Divisi Distribusi & Pencucian: Pengiriman ke sekolah dan pembersihan alat pasca-penggunaan.
Setiap pekerja diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap sebagai syarat utama bekerja di area produksi.
Kehadiran dapur ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para pekerja, salah satunya Lukas Pereira, staf divisi persiapan asal Haliulun, Kelurahan Fatubenao.
”Saya sudah bekerja di sini sejak awal berdiri. Program ini sangat membantu kami yang tidak lanjut kuliah untuk bisa membantu perekonomian keluarga,” kata Lukas.
Dengan distribusi yang mencakup wilayah Tasifeto Timur hingga area Atunaous di Atambua Kota, Dapur MBG Lalosuk berkomitmen menjadi pilar utama dalam mendukung program penguatan gizi anak sekolah di wilayah perbatasan Belu.














