Sampaikan Terima Kasih ke Bupati Belu, Akademisi UC Timor Leste Titip PR Sinyal Digital di Fulan Fehan

BERITA, DAERAH, SOSBUD137 Views

​Akademisi dari Universidade Catolica Timor Leste, Dr. Damianus Talok, MA, memberikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan festival Fulan fehan dan berpesan agar membenahi infrastruktur digital (jaringan).

Belu,Mediatihar.Com- Kesuksesan Festival Fulan Fehan IV yang digelar di kaki Gunung Lakaan, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (27/6/2026), menuai apresiasi sekaligus catatan penting dari kalangan akademisi. Festival lintas batas negara ini dinilai sukses memikat ribuan pengunjung, termasuk delegasi dari Timor-Leste dan Australia.

​Meski memukau, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu disarankan untuk memperkuat narasi sejarah kebudayaan serta membenahi infrastruktur digital di kawasan wisata tersebut agar promosi dapat berjalan lebih masif.

​Akademisi dari Universidade Catolica Timor Leste, Dr. Damianus Talok, MA, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi penyelenggaraan festival tahunan ini. Menurutnya, pergelaran ini menjadi panggung yang luar biasa dalam mengangkat kekayaan budaya dan pesona alam Belu ke kancah dunia.

​“Kami mengapresiasi festival ini. Ini sangat luar biasa. Tentu kami mendukung penuh agar kegiatan ini terus dilanjutkan di masa mendatang,” ujar Damianus saat ditemui di lokasi festival, Sabtu (27/6/2026).

​Pensiunan Dosen Unika Widya Mandira Kupang ini menambahkan bahwa koreografi tarian tradisional seperti Likurai dan Tebe, serta peragaan corak tenun ikat yang ditampilkan, sangat memikat mata penonton.

​Kendati memberikan pujian, Damianus menyampaikan sejumlah catatan kritis sebagai masukan bagi Pemkab Belu. Ia menyoroti pentingnya penyusunan narasi tertulis yang komprehensif mengenai latar belakang historis situs-situs adat di Belu.

​Menurut Damianus, banyak generasi muda saat ini yang menikmati keindahan visual festival, namun tidak memahami makna filosofis di baliknya.

​Edukasi Makna Kebudayaan Perlu ada penjelasan tertulis mengenai arti nama Fulan Fehan, sejarah Gunung Lakaan, hingga makna filosofis di balik gerakan tarian Likurai dan Tebe.

​Suku yang Beragam Narasi ini dinilai krusial mengingat penduduk Kabupaten Belu saat ini sudah semakin heterogen dan tidak lagi hanya dihuni oleh empat suku besar.

​Gandeng Tokoh Adat Untuk menyusun sejarah yang valid, Damianus menyarankan pemerintah daerah melibatkan para Makoan (penutur adat) dan tokoh yang memahami runtunan sejarah lokal.

​”Narasi ini akan membantu masyarakat lintas generasi dan etnis untuk mengerti serta menghargai budaya dan alam kita. Jadi, selain menikmati keindahan gerak seni, pengunjung juga pulang dengan membawa pemahaman maknanya,” jelas Damianus.

​Selain urusan konten budaya, Damianus juga menyoroti kendala teknis yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah daerah, yakni ketersediaan infrastruktur telekomunikasi.

​Ia menyayangkan hampir seluruh kawasan sabana Fulan Fehan saat ini masih berstatus tanpa sinyal atau blank spot internet. Padahal, kehadiran jaringan internet di lokasi acara merupakan modal utama untuk promosi gratis secara real-time.

​”Jika jaringan internet tersedia, ribuan pengunjung yang hadir bisa langsung menyebarkan kemeriahan festival ini saat itu juga ke seluruh dunia melalui siaran langsung, foto, maupun video di media sosial,” pungkasnya.

Festival Fulan Fehan IV 2026 dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, di antaranya Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, serta Wali Kota Darwin, Australia.