
ATAMBUA, MEDIATIHAR.COM – Memanfaatkan masa jeda persidangan (reses) Masa Sidang II Tahun Anggaran 2026, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Belu dari Partai Amanat Nasional (PAN), Maria Hilaria Yanuaria Bone, menggelar kegiatan penyerapan aspirasi masyarakat di Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu.
Dalam tatap muka tersebut, warga RT 04 dan RT 36/RW 02 menyampaikan berbagai persoalan krusial yang tengah membelit pemukiman mereka, mulai dari krisis BBM, pelayanan air bersih, kelistrikan, hingga infrastruktur jalan dan ekonomi warga.

Sektor kebutuhan pokok menjadi sorotan utama warga. Masyarakat mengeluhkan tingginya harga minyak tanah di tingkat agen yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). Tak hanya itu, warga mengungkap praktik tidak wajar di beberapa pangkalan minyak tanah Fatubenao yang mewajibkan masyarakat membeli telur jika ingin mendapatkan minyak tanah.
Selain minyak tanah, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar dan Pertalite/Bensin yang terjadi akhir-akhir ini turut dikeluhkan. Warga mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu turun tangan menyelidiki penyebab gangguan distribusi BBM tersebut.
Mengenai pelayanan dasar air bersih, warga menyuarakan kekecewaan terhadap kinerja PDAM. Aliran air ke rumah warga dinilai sangat terbatas, yakni hanya berkisar 30 menit dan kerap dalam kondisi keruh.

Warga juga mempertanyakan ketidaksesuaian janji sosialisasi awal yang menyebutkan pembebasan biaya (gratis) selama tiga bulan pertama. Fakta di lapangan, warga tetap diwajibkan membayar. Selain itu, tarif pemeliharaan/pemasangan dikabarkan melonjak dari kesepakatan awal sebesar Rp150.000 menjadi Rp199.000 per bulan. Untuk mengatasi krisis air, warga RT 02/RW 01 mengusulkan pembangunan setidaknya satu bak penampungan air bersih per lingkungan RT.
Di bidang kelistrikan, warga mendesak PT PLN (Persero) untuk segera membangun tiang dan gardu listrik baru di RT 04 dan RT 36. Selama ini, penyaluran arus listrik dilakukan secara swadaya dari rumah ke rumah (interkoneksi kabel rakyat) yang berpotensi tinggi memicu bahaya kebakaran dan korsleting. Penerangan Jalan Umum (PJU) berbasis solar cell dari arah Kantor Lurah Fatubenao menuju gereja setempat juga dilaporkan rusak total.
Di sektor infrastruktur jalan, warga mengajukan sejumlah titik perbaikan dan peningkatan, antara lain:
Peningkatan jalan dan pembangunan saluran drainase sepanjang 1,5 km di RT 04 dan RT 36/RW 02.
Peningkatan jalan pemukiman sepanjang 200 meter untuk aksesibilitas 20 KK di RT 04/RW 02.
Pembangunan jalan akses depan SD Fatubenao di RT 01 sepanjang 1 km.
Sementara untuk penguatan ekonomi, warga mengusulkan bantuan kelompok ternak dari Pemkab Belu. Aspirasi khusus juga datang dari Kelompok Tenun Meti Kes Pewarna Alam yang menagih janji bantuan bahan baku benang serta realisasi pembangunan Rumah Tenun Sederhana. Pihak kelompok menyataan lahan bersertifikat sudah siap dan hibahkan kepada Dekranasda Kabupaten Belu.
Perwakilan tokoh masyarakat dan Ketua RT yang hadir, antara lain Tobias H., Yulius M. Bere, Markus Liku, Sinta Siri, Apriana Sose, Firmus Manek, Dolvianus B. Belak, Stefanus Laku Mali, Paskalis Bere, Stefanus Robyanto Mali, Gabriel Suri, serta Mama Bete, berharap seluruh poin aspirasi ini dapat diperjuangkan secara nyata.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Maria Hilaria Yanuaria Bone menegaskan akan merangkum seluruh masukan warga Fatubenao untuk dimasukkan ke dalam Pokok-Pokok Pikiran (Pokpir) DPRD Belu dan diperjuangkan dalam pembahasan anggaran bersama pemerintah daerah.


