Paskah di Kapela Stasi Bala: Pesan Kebangkitan dari Kapela Berdinding Bambu

BERITA, DAERAH, RELIGI679 Views

umat Katolik di Kapela Stasi Bala, Paroki Nela, merayakan Misa Kebangkitan Yesus Kristus.

​BELU,Mediatihar.Com– Ratusan umat Katolik di Kapela Stasi Bala, Paroki Nela, merayakan Misa Kebangkitan Yesus Kristus atau Minggu Paskah dengan penuh khidmat, Minggu (05/04). Meski perayaan berlangsung di bangunan sederhana berdinding bambu dan jauh dari hiruk-pikuk kota, suasana kesucian tetap menyelimuti para jemaat yang hadir.

​Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin langsung oleh Pastor Paroki Nela, Pater Iren Lolan, SVD. Dalam khotbahnya, Pater Iren menekankan bahwa Paskah adalah momen kemenangan atas kematian sekaligus menjadi titik balik bagi umat untuk berani menjadi saksi iman di tengah masyarakat.

​Pater Iren mengajak umat untuk merefleksikan makna kebangkitan sebagai kekuatan untuk keluar dari rasa takut dan keraguan.

​”Jangan takut mewartakan kebenaran. Apa yang kita hayati secara benar, hendaknya kita hidupi. Kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa kita tidak menghayati iman yang mati, melainkan iman yang hidup. Iman itu harus nampak dalam kesaksian hidup yang nyata, jujur, dan bertanggung jawab,” ujar Pater Iren.

​Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi iman. Pater Iren menyentil fenomena goyahnya iman hanya karena persoalan duniawi atau tawaran materi sesaat. Menurutnya, identitas sebagai orang beriman harus tercermin dalam keteguhan hati, bukan sekadar identitas formal yang mudah berubah.

​Mengambil inspirasi dari kisah Maria Magdalena yang menemukan makam kosong, Pater Iren menjelaskan bahwa peristiwa tersebut adalah awal dari keberanian para murid untuk bersaksi.

​”Yesus sudah bangkit, Ia hidup, maka ada harapan. Harapan inilah yang memberikan kekuatan bagi kita untuk bersaksi, mulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga, KUB (Kelompok Umat Basis), hingga ke tingkat stasi dan paroki,” tambahnya.

Keterbatasan fasilitas fisik di Kapela Stasi Bala tidak mengurangi kekhusyukan umat. Justru, kesederhanaan bangunan bambu tersebut menambah kesan mendalam akan makna kelahiran kembali dan kerendahan hati.

​Suasana liturgi semakin terasa syahdu dengan iringan paduan suara dari Atanasius Bauatok A dan B, yang membawakan lagu-lagu pujian Paskah dengan penuh penghayatan, membawa pesan transisi dari kegelapan menuju terang (ritus cahaya).

​Perayaan ini menjadi pengingat bagi umat di Stasi Bala bahwa esensi Paskah bukan terletak pada kemegahan bangunan, melainkan pada kebangkitan spiritualitas dan pembaruan jati diri sebagai pengikut Kristus yang setia.