Menolak Lupa! Warisan Abadi dr. Handrian dan Raider 408 di Tapal Batas: Saat Ketulusan Mengalahkan Mustahil

DAERAH, KESEHATAN82 Views

jejak pengabdian Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-RDTL Yonif Raider 408/Sbh di wilayah perbatasan Belu tahun 2019.

ATAMBUA,MEDIATIHAR.COM – Menolak lupa atas dedikasi tanpa batas di gerbang negeri. Komitmen untuk senantiasa hadir dan menjadi solusi bagi kesulitan rakyat bukan sekadar slogan bagi TNI. Jauh setelah penugasan mereka usai di tahun 2019, jejak pengabdian Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-RDTL Yonif Raider 408/Sbh di wilayah perbatasan Belu, Nusa Tenggara Timur, tetap hidup dan membekas di hati masyarakat.

​Salah satu kisah inspiratif datang dari Maria Luciana Leki, seorang warga kurang mampu di perbatasan yang akhirnya bisa tersenyum lega setelah mendapatkan kartu Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) BPJS. Keberhasilan ini tidak lepas dari kegigihan dan inovasi luar biasa dari jajaran Satgas Pamtas saat itu.

​Memegang teguh komitmen Delapan Wajib TNI, Satgas Pamtas Yonif Raider 408/Sbh tidak hanya menjaga kedaulatan fisik negara, tetapi juga kedaulatan kesejahteraan masyarakatnya. Sadar bahwa pelayanan kesehatan gratis selama penugasan akan berakhir begitu pasukan ditarik ke home base, tim kesehatan Satgas memutar otak untuk memberikan warisan (legacy) yang bisa dinikmati warga seumur hidup.

​Adalah Letda Ckm dr. Handrian Parikesit, yang saat itu menjabat sebagai Dokter Satgas, menggagas sebuah program inovatif. Melalui evaluasi mendalam setelah menggelar 13 kali balai pengobatan gratis, dr. Handrian menyadari masyarakat perbatasan membutuhkan jaminan kesehatan jangka panjang.

​”Kami ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat dan dapat digunakan oleh masyarakat dalam jangka waktu yang panjang—bahkan seumur hidup—walaupun Satgas kami telah kembali ke kesatuan asal,” ujar dr. Handrian saat itu.

​Langkah berani pun diambil. Dokter Handrian menginisiasi program pengalihan kuota BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBD. Kuota dari warga yang telah meninggal dunia di wilayah kerja Puskesmas dan Pos Laktutus, dialihkan secara tepat sasaran kepada masyarakat kurang mampu yang sangat membutuhkan, seperti Maria Luciana Leki.

​Upaya ini mencatatkan sejarah baru. Belum pernah ada Satgas Pamtas di Indonesia yang melakukan terobosan administratif lintas instansi hingga berhasil mencetak kartu BPJS bagi warga perbatasan.

​Proses ini tentu tidak mudah dan sarat tantangan birokrasi. Namun, dengan prinsip Berbuat Terbaik, Berani, Tulus, dan Ikhlas, dr. Handrian membangun sinergi kuat selama dua bulan penuh. Ia berkoordinasi langsung dengan Bupati Belu saat itu, Willybrodus Lay, S.H., serta mengintegrasikan empat instansi sekaligus: BPJS Kesehatan, Dinas Sosial, Disdukcapil, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Belu.

​Perjuangan tersebut membuahkan hasil manis. Kuota jaminan kesehatan yang selama ini mengendap berhasil diaktifkan kembali untuk menyelamatkan masa depan kesehatan warga perbatasan.

​Tidak berhenti pada aksi nyata, dr. Handrian juga memberikan sumbangsih pemikiran visioner kepada Pemerintah Kabupaten Belu. Ia menyarankan pengadaan unit kendaraan layanan keliling (serupa SIM Keliling).

​Di dalam mobil dinas bergerak tersebut, petugas dari Dinkes, Dinsos, Disdukcapil, dan BPJS duduk bersama untuk menjemput bola ke sudut-sudut perbatasan. Tujuannya satu: memangkas jarak dan mempermudah masyarakat adat serta warga pelosok dalam mendapatkan hak kesehatannya.

​Catatan Redaksi: Inspirasi dari Garis Depan

​Kisah perjuangan Yonif Raider 408/Sbh ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan geografis di wilayah perbatasan bukan alasan untuk menyerah pada keadaan. Dedikasi Letda Ckm dr. Handrian Parikesit dan seluruh personel Satgas mengajarkan kita sebuah esensi penting: bahwa pengabdian tertinggi adalah ketika kita mampu meninggalkan manfaat yang terus mengalir bagi orang lain, bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di sana.

​Semoga semangat jurnalisme kemanusiaan ini terus membakar motivasi kita untuk saling peduli, menembus batas, dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan sesama. Kesulitan ada bukan untuk diratapi, melainkan untuk dituntaskan dengan keberanian dan ketulusan hati.