Tihar Alat musik tradisional yang terbuat dari kayu,Rotan dan kulit Binatang.
KUPANG, Mediatihar.Com– Keberagaman budaya Indonesia kembali menunjukkan pesonanya melalui alat musik tradisional Bibiliku atau Tihar. Alat musik perkusi berkepala tunggal yang terbuat dari kayu, rotan, dan kulit binatang ini menjadi denyut nadi utama dalam pementasan Tari Likurai, sebuah tarian khas yang sarat akan nilai sejarah.
Berbeda dengan alat musik perkusi lainnya, Bibiliku membutuhkan kolaborasi massa untuk menghasilkan irama yang megah. Dalam satu pementasan, dibutuhkan sekitar 11 hingga 23 pemain, yang seluruhnya adalah wanita. Pada gelaran berskala besar, jumlah pemain bahkan bisa meningkat drastis untuk menciptakan dentuman yang lebih kolosal.
Cara memainkannya pun unik. Para penari wanita menjepit gendang di bawah ketiak sambil memukulnya mengikuti ritme, sembari melakukan gerakan Tari Likurai yang lincah.
Irama Bibiliku tidak berdiri sendiri. Pementasan ini merupakan perpaduan estetika dan ketangkasan:
Penari Pria: Menari dengan giring-giring di kaki sambil menghunuskan pedang, mengikuti tempo cepat gendang.
Lantunan Syair: Sejumlah laki-laki melantunkan syair-syair pemujaan yang mengagungkan sosok pahlawan.
Secara historis, Tari Likurai merupakan tarian sakral untuk menyambut panglima perang yang pulang dari medan tempur. Namun, seiring perkembangan zaman, fungsi tarian ini telah mengalami pergeseran positif.
”Jika dahulu ia adalah simbol kemenangan perang, kini Tari Likurai menjadi simbol kehangatan masyarakat dalam menyambut tamu kehormatan, memeriahkan pesta pernikahan, dan berbagai acara adat lainnya,” ujar salah satu penggiat budaya setempat.
Hingga saat ini, kelestarian Bibiliku dan Tari Likurai terus dijaga sebagai identitas bangsa yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini melalui deru kulit binatang dan rotan yang dipukul penuh semangat.









