Kisah Putri Ayu, Penari Likurai Asal MTs Al-Muhajirin yang Jatuh Cinta pada Budaya Belu di Fulan Fehan

BERITA, DAERAH, SOSBUD114 Views

Putri Ayu Mustikasari, siswi asal MTs Al-Muhajirin Atambua mengaku sangat bahagia dan bangga karena terpilih menjadi salah satu penari Likurai dalam festival.

BELU,MEDIATIHAR.COM- Ribuan penari berbusana tenun ikat sukses menghipnotis penonton lewat drama kolosal bertajuk “Dance for Friendship” dalam pergelaran Festival Fulan Fehan 2026 di kawasan lereng perbukitan Savana Fulan Fehan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Di balik kemegahan acara tahunan tersebut, terselip kisah haru dan bangga dari para peserta yang terlibat langsung di lapangan.

​Salah satu penari yang mencuri perhatian adalah Putri Ayu Mustikasari, siswi asal MTs Al-Muhajirin Atambua. Meski bukan merupakan warga asli Belu, Putri mengaku sangat bahagia dan bangga karena terpilih menjadi salah satu penari Likurai dalam festival berskala besar ini.

​”Wah, sangat senang sekali. Karena bisa dibilang festivalnya tidak kecil, sangat besar yang mencakup satu Kabupaten Belu. Ini pengalaman pertama saya sebagai anak MTs Al-Muhajirin Atambua yang terpilih menjadi penari Likurai,” ungkap Putri dengan penuh antusias saat diwawancarai mediatihar.com

​Bagi Putri, keterlibatannya dalam festival ini bukan sekadar tampil di atas panggung savana, melainkan juga menjadi wadah belajar yang sangat bernilai mengenai kekayaan budaya lokal.

​”Saya banyak sekali belajar tentang budaya-budaya Kabupaten Belu, karena saya bukan berasal dari Belu asli. Ini menambah pengalaman untuk masa depan saya, yang bisa saya ceritakan kepada teman-teman nanti. Terima kasih untuk Pemerintah Kabupaten Belu yang sudah menyelenggarakan Festival Fulan Fehan 2026 dengan sangat megah dan besar,” tambahnya.

​Selama 1,5 jam, Putri bersama ribuan penari lainnya bergerak dinamis membentuk formasi apik di tengah padang rumput. Mereka tampil selaras di bawah arahan Eko Supendi, koreografer kenamaan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

​Pergelaran seni ini secara apik memadukan narasi adat, ritual budaya Tetun dan Dawan, tradisi menenun, hingga tarian Likurai. Kolaborasi budaya lintas batas ini dinilai tidak sekadar menjadi magnet pariwisata, melainkan menjelma jadi simbol penguat hubungan persaudaraan dan ikatan kultural yang erat antara masyarakat Indonesia dan Timor-Leste di tanah Timor.

​Acara bergengsi ini dihadiri langsung oleh sejumlah pejabat tinggi negara dan delegasi internasional. Tampak di lokasi, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian beserta Ketua Umum TP PKK Tri Tito Karnavian, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, serta Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena. Selain itu, hadir pula Wali Kota Darwin (Australia) serta delegasi resmi dari negara tetangga, Timor-Leste.

​Saat tiba di lokasi festival, Mendagri beserta rombongan disambut dengan ritual adat Hase Hawaka dan pengalungan kain tenun khas setempat, yang kemudian dibuka oleh penampilan atraksi drumben dari Universitas Pertahanan (Unhan) Mbenboi.

​Berdasarkan pantauan di lapangan, meski terik matahari menyengat, antusiasme warga tetap tinggi. Ribuan pengunjung dari Kabupaten Belu, Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), hingga Timor-Leste telah memadati kawasan sejak siang hari. Suasana yang semula riuh berubah menjadi khidmat saat alunan musik tradisional berupa gong, kendang (tihar), dan suling bambu mulai menggema mengiringi gerakan dinamis para penari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *