Festival Fulan Fehan Tidak hanya membawa dampak pada pariwisata melainkan membawa dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi (foto: kolose).
ATAMBUA,MEDIATIHAR.COM – Pelaksanaan Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026 membawa dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi dan sektor pariwisata di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Event yang berlangsung pada 25–28 Juni 2026 ini berhasil mendongkrak tingkat hunian hotel, pendapatan UMKM, hingga jasa transportasi di wilayah perbatasan tersebut.
Festival tahun ini mengusung tema “Dance for Friendship”. Kegiatan ini menyajikan beragam pertunjukan mulai dari Tarian Likurai, pameran tenun, musik tradisional, hingga Tebe Bersama. Acara ini dihadiri oleh wisatawan domestik hingga mancanegara, termasuk dari Timor-Leste dan Australia.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Kamis (25/6/2026) pagi, sejumlah hotel di Kota Atambua mulai dipadati oleh para tamu dan wisatawan yang hendak menghadiri festival.

Resepsionis Hotel Matahari, Kety, mengonfirmasi bahwa seluruh kamar di hotelnya telah habis dipesan selama periode festival berlangsung.
”Sejak hari ini sampai tanggal 28 Juni, semua kamar di hotel kami penuh. Totalnya ada 58 kamar,” ujar Kety saat ditemui, Kamis (25/6).
Lonjakan serupa juga dirasakan oleh Hotel Nusantara 2. Pemilik Hotel Nusantara 2, Hendrik Oematan, menyebutkan bahwa perpaduan momen Festival Fulan Fehan dan kegiatan Convenda Karismatik yang berjalan beriringan memberikan dampak positif yang luar biasa bagi pengusaha akomodasi.
”Dalam satu minggu terakhir, tingkat hunian kamar meningkat tajam dari yang biasanya hanya sekitar 15 sampai 20 persen, kini melonjak hingga 80 sampai 90 persen,” kata Hendrik.
Hendrik pun menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Kabupaten Belu, pihak gereja, dan seluruh panitia penyelenggara. Menurutnya, event besar berskala internasional seperti ini sangat dibutuhkan untuk menghidupkan ekonomi daerah.
”Kami berharap ke depan pemerintah tetap konsisten menggelar event besar seperti ini karena terbukti menambah pendapatan sektor perhotelan maupun ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM,” tambahnya.
Selain perhotelan, denyut ekonomi juga dirasakan langsung oleh para pelaku UMKM. Kehadiran ribuan pengunjung berimbas pada peningkatan permintaan kuliner lokal, kain tenun ikat, kerajinan tangan, hingga aksesoris budaya khas Belu.
Sektor jasa transportasi seperti rental kendaraan juga mengalami lonjakan permintaan untuk mengantar tamu ke lokasi festival di padang savana Fulan Fehan maupun destinasi wisata sekunder lainnya. Tidak hanya itu, penyedia jasa penukaran mata uang (money changer) di Atambua turut mencatat peningkatan aktivitas transaksi seiring banyaknya kunjungan warga dari negara tetangga, Timor-Leste.
Festival Fulan Fehan IV juga menjadi ruang strategis untuk mengenalkan kain tenun Belu ke panggung nasional dan internasional melalui sesi fashion show dan parade budaya. Langkah ini diharapkan mampu menaikkan nilai ekonomis tenun ikat sekaligus memotivasi generasi muda di perbatasan untuk menjaga warisan leluhur.
Melalui pendekatan budaya, festival yang mengedepankan nilai persahabatan lintas batas negara ini juga menjadi jembatan diplomasi yang mempererat hubungan sosial-kultural antara masyarakat Indonesia, Timor-Leste, dan Australia.
Menyikapi tingginya mobilitas pelintas batas selama festival, Hendrik Oematan berharap adanya penguatan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, pihak Imigrasi, dan Kepolisian.
”Kami berharap ada kerja sama yang baik antara pemerintah, perhotelan, imigrasi, dan kepolisian supaya para tamu yang datang dari luar negeri maupun luar daerah merasa aman dan nyaman selama di Belu,” pungkas Hendrik.








