Dapur MBG Belu: Tempat Para Janda dan Pemuda Perbatasan Merajut Asa dan Mandiri Ekonomi

Program MBG tak hanya fokus pada peningkatan Gizi, namun program ini juga terbukti menjadi motor penggerak Ekonomi masyarakat Belu.

BELU,MEDIATIHAR.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat mulai menunjukkan dampak ekonomi. Tak hanya fokus pada peningkatan gizi siswa, program ini terbukti menjadi motor penggerak ekonomi bagi masyarakat di wilayah perbatasan, khususnya melalui penyerapan tenaga kerja lokal.

​Di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) Manuaman, Kecamatan Atambua Selatan, menjadi salah satu titik yang memberikan dampak nyata. Sebanyak 51 tenaga kerja, yang terdiri dari 48 relawan dan 3 staf, telah direkrut untuk mengoperasikan dapur pelayanan tersebut.

​Kepala SPPG Manuaman, Jefry Mau, menjelaskan bahwa rekrutmen tenaga kerja dilakukan dengan seleksi ketat yang memprioritaskan aspek sosial-ekonomi.

​”Kami memprioritaskan masyarakat yang masuk dalam kategori Desil 1 dan Desil 2 atau warga dengan tingkat kesejahteraan terendah. Selain itu, kami mengutamakan warga yang berdomisili di sekitar lokasi SPPG,” ujar Jefry kepada awak media, Kamis (7/5).

​Kebijakan ini diambil agar kehadiran unit pelayanan pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya secara langsung oleh ekonomi rumah tangga di sekitar lokasi operasional.

​Manfaat ekonomi ini dirasakan langsung oleh Jefri Taneo (19), salah satu karyawan di SPPG Manuaman. Sebelum terjun ke lapangan, Jefri mengaku harus menjalani pelatihan intensif selama tiga hari mengenai standar sanitasi dan distribusi makanan.

​”Pekerjaan ini sangat berharga bagi saya. Selain bisa membantu biaya sekolah adik, saya juga mulai bisa mencicil motor untuk transportasi sehari-hari,” tutur Jefri. Ia pun mengapresiasi Presiden Prabowo dan Pemerintah Kabupaten Belu atas implementasi program ini.

​Senada dengan Jefri, Murni Abu Bakar (49), seorang janda yang kini bekerja di dapur SPPG, merasa sangat terbantu secara finansial.

​”Dulu saya hanya di rumah saja (menganggur). Sebagai janda, saya harus berpikir keras untuk mencukupi biaya sekolah anak. Saya sangat bersyukur, program ini luar biasa membantu kami yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan,” ungkap Murni dengan penuh haru.

​Hingga saat ini, SPPG Manuaman telah melayani sedikitnya 3.290 penerima manfaat. Cakupan ini meliputi anak-anak di tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga sasaran layanan di Posyandu yang tersebar di wilayah Kecamatan Atambua Selatan.

​Meski demikian, operasional di wilayah perbatasan bukan tanpa kendala. Jefry Mau mengakui adanya tantangan besar pada rantai pasok bahan baku.

​”Tantangan utama kami adalah konsistensi pasokan daging dan buah-buahan. Saat ini, untuk komoditas buah-buahan, kami bahkan masih harus mendatangkannya dari Kupang,” ungkapnya.

​Menutup keterangannya, Jefry berharap pemerintah pusat dan daerah dapat menambah jumlah unit dapur SPPG di Kabupaten Belu. Mengingat luas wilayah perbatasan RI-RDTL, masih banyak sekolah di pelosok yang belum terjangkau layanan MBG.

​”Kami berharap ada penambahan unit dapur agar seluruh anak di pelosok kampung perbatasan dapat menikmati program ini secara merata,” pungkas Jefry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *