Bupati dan Wabup Belu Puji Penari Fulan Fehan: Kalian Duta Budaya di Garis Batas!

BERITA, DAERAH, SOSBUD292 Views

Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H.,dan wakil Bupati Belu vicente Hornai gonsalves ST menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang mendalam khusus kepada ribuan penari.

BELU,MEDIATIHAR.COM– Sejarah diplomasi budaya kembali tertulis indah di padang Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Sabtu (27/6/2026). Lebih dari 3.000 penari Likurai dari berbagai suku dan negara bergerak serempak dalam satu irama, menandai pembukaan resmi Festival Fulan Fehan (FFF) ke-4.

​Acara tahunan ini dibuka secara resmi melalui pemukulan alat musik tradisional tihar oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D.

​Di tengah kemegahan festival tersebut, Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang mendalam khusus kepada ribuan penari yang menjadi roh dari acara ini. Menurutnya, dedikasi para penari berhasil menyampaikan pesan perdamaian yang kuat ke kancah internasional.

​”Apresiasi tertinggi saya berikan kepada seluruh penari yang tampil hari ini. Kalian bukan hanya menari, tetapi sedang merajut tenun persahabatan antarnegara. Melalui gerakan Likurai, kalian berhasil menyatukan Indonesia, Timor Leste, dan Australia dalam satu panggung kedamaian,” ujar Bupati Willybrodus saat menyapa penonton di panggung alam Fulan Fehan.

​Senada dengan Bupati, Wakil Bupati Belu yang turut mendampingi, menegaskan bahwa para penari adalah duta budaya yang sesungguhnya. Kehadiran penari dari berbagai wilayah, termasuk dari negara tetangga Timor Leste, dinilai sukses menghidupkan tema besar festival tahun ini: “Dance for Friendship”.

​Wakil Bupati menekankan bahwa energi, latihan keras, dan ketulusan para penari di atas panggung adalah bukti nyata bahwa budaya mampu melampaui sekat-sekat administrasi negara.

​Momen paling mengharukan dalam festival ini terjadi saat para penari memasuki lapangan sambil membawa empat bendera secara beriringan: Bendera Indonesia, Timor Leste, Australia, serta lambang daerah Kabupaten Belu.

​Pertunjukan kolosal ini dimulai dengan Tari Kikit, dilanjutkan Tari Antama, hingga kolaborasi modern antara suling bambu dan Drumband UNHAN RI. Suasana persaudaraan semakin kental saat Tari Merongeng yang dinamis dibawakan, disusul oleh aksi Tebe bersama di akhir acara.

​Seluruh penari, pejabat yang hadir—termasuk Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Wali Kota Darwin, dan Menteri Muda Kebudayaan Timor Leste—serta masyarakat umum saling bergandengan tangan membentuk lingkaran raksasa sebagai simbol persatuan abadi di tanah perbatasan.

​Salah satu penari mengekspresikan rasa bangganya bisa terlibat langsung dalam momen bersejarah ini. Ia berharap ajang internasional seperti ini bisa terus dipertahankan.

​”Kami sangat bangga bisa membawakan tarian warisan leluhur kami di depan Mendagri dan tamu-tamu asing. Kami berharap festival ini terus dilaksanakan setiap tahun agar budaya kita tetap lestari,” ungkapnya.

​Antusiasme luar biasa yang ditunjukkan oleh ribuan penonton dari Kabupaten Belu, TTU, Malaka, hingga Timor Leste membuktikan bahwa Festival Fulan Fehan bukan sekadar seremonial belaka, melainkan pesta rakyat yang merayakan identitas, syukur, dan persaudaraan di garis batas negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *