Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Beirafu, Kecamatan Atambua Barat, Yustinus Suku, menjelaskan bahwa pihaknya telah beroperasi sejak 17 Februari 2025.
BELU,MEDIATIHAR.COM– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan dampak signifikan di wilayah perbatasan RI-RDTL (Republik Demokratik Timor Leste). Selain memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, program ini terbukti menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui penyerapan tenaga kerja lokal.
Diluncurkan secara nasional oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sejak Januari 2026, program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). MBG dinilai mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Beirafu, Kecamatan Atambua Barat, Yustinus Suku, menjelaskan bahwa pihaknya telah beroperasi sejak 17 Februari 2025. Hingga saat ini, SPPG Beirafu melayani sedikitnya 3.411 penerima manfaat.
”Sasaran utama kami adalah ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta pelajar mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA. Untuk saat ini, kelompok lansia belum masuk dalam cakupan,” ujar Yustinus saat diwawancarai pada Sabtu (9/5/2026).
Yustinus menegaskan, dampak ekonomi dari program ini sangat dirasakan oleh warga perbatasan. Dalam perekrutan tenaga kerja, SPPG memprioritaskan masyarakat yang tergolong dalam kelompok ekonomi Desil 1 dan Desil 2.
Saat ini, SPPG Beirafu mempekerjakan sebanyak 48 tenaga kerja. Uniknya, kriteria perekrutan tidak menitikberatkan pada latar belakang ijazah, melainkan pada kejujuran dan kemauan untuk bekerja.
”Mereka (pekerja) diberikan pelatihan khusus yang didampingi langsung oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Belu. Dengan adanya program ini, para relawan, petani lokal, hingga pelaku UMKM sangat terbantu secara ekonomi,” tambahnya.
Tantangan Rantai Pasok
Meski berjalan lancar, Yustinus mengakui masih terdapat kendala teknis, terutama dalam pemenuhan rantai pasok buah-buahan lokal. Saat ini, kebutuhan buah-buahan masih harus didatangkan dari luar Kabupaten Belu, seperti dari Kabupaten TTU, TTS, hingga Kupang.
Menyikapi hal tersebut, pihak SPPG telah berkoordinasi dengan Koordinator Wilayah BGN dan Dinas Pertanian Kabupaten Belu untuk mencari solusi jangka panjang.
”Kami sudah sampaikan kendala ini ke pimpinan agar ke depannya ada sinkronisasi dengan petani lokal di Belu, sehingga ekonomi daerah benar-benar berputar di sini,” pungkasnya.***












