Membuka Cahaya di Perbatasan: Kemensos Gelar Operasi Katarak Gratis Terbesar di Belu, Target Puluhan Ribu Pasien!

BELU,Mediatihar.com – Ratusan warga di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste berkesempatan memulihkan penglihatan mereka melalui Operasi Katarak Gratis terbesar yang pernah digelar di Kabupaten Belu.

Kegiatan kemanusiaan yang berlangsung sejak Jumat (12/12/2025) ini merupakan hasil kolaborasi masif antara Kementerian Sosial RI, Pemprov NTT, Pemkab Belu, RS Katolik Marianum Halilulik, ERHA, dan Himpunan Bersatu Teguh (HBT).

​Acara yang dibuka resmi oleh Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Goncalves, ST, ini menghadirkan tim dokter spesialis mata terkemuka dari Jakarta serta dukungan penuh dari Sentra Efata Kupang. Masyarakat dari Belu, Malaka, TTU, TTS, hingga Alor tumpah ruah menunjukkan antusiasme tinggi.


​Direktur RS Katolik Marianum Halilulik, Sr. dr. Maria Adriana Neno SSpS, menyampaikan rasa syukur karena rumah sakitnya kembali dipercaya menjadi tuan rumah.

​“Ini merupakan suatu kehormatan bagi kami. Manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, apalagi di daerah kami dokter spesialis mata hampir tidak ada. Pasien katarak bertambah setiap tahun,” ujar Sr. Adriana.

​Hasil skrining awal menjaring 272 pasien katarak dan 24 pasien pterigium. Operasi yang dijadwalkan hingga 14 Desember ini diperkirakan akan melayani total lebih dari 300 pasien.

​Dr. Andreas Sofiandi, Ketua Tim Medis dari Jakarta, menjelaskan bahwa operasi menggunakan metode phacoemulsification, teknologi mutakhir yang memungkinkan tindakan tanpa sayatan besar.

​“Lukanya hanya 2 milimeter sehingga minim risiko infeksi. Kami membawa tujuh dokter dan tim lengkap dari Jakarta. Tingginya kasus di sini dipengaruhi oleh paparan sinar matahari karena mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani dan peternak,” jelas dr. Andreas.

Perwakilan Kementerian Sosial RI mengungkapkan bahwa operasi di Belu ini menjadi yang terbesar secara nasional sepanjang Januari hingga November 2025.

​“Selama tahun ini kami melakukan sekitar 3.800 operasi katarak di seluruh Indonesia. Dan Belu mencatat angka tertinggi. Ini kolaborasi luar biasa,” katanya.

​Kemensos mengapresiasi kesigapan RS Marianum dan antusiasme warga yang terus berdatangan untuk diskrining, menunjukkan tingginya kebutuhan akan layanan ini.

​​Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Goncalves, dalam sambutannya menegaskan bahwa katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan, khususnya bagi lansia dan kelompok prasejahtera.

​“Program ini wujud komitmen kita dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, menghadirkan layanan yang mudah dijangkau, humanis, dan inklusif,” tegas Wabup Vicente, sambil menambahkan bahwa kegiatan ini relevan mengingat tingginya paparan sinar matahari pada petani dan peternak Belu.

​Antusiasme dan rasa syukur juga diungkapkan pasien. Salah seorang pasien asal Malaka yang telah enam bulan mengalami gangguan penglihatan mengaku sangat terbantu.

“Kegiatan ini luar biasa. Pemerintah peduli pada kesehatan kami. Semua biaya ditanggung, kami sangat terbantu,” ujarnya haru sebelum memasuki ruang operasi.

​Operasi dijadwalkan terus berlangsung hingga 14 Desember, dan masyarakat masih terlihat antusias mendaftar, berharap kolaborasi besar ini menjadi titik terang bagi warga perbatasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *