GENTASKIN Batch 2 Berakhir: 146 Mahasiswa KKN Resmi Ditarik dari Kabupaten Belu

Ket: wakil Bupati Belu vicente Hornai Gonzalves menarik sekaligus Melepas 146 mahasiswa dan 10 Dosen Pembimbing Lapangan program Kuliah Kerja Nyata (Foto:MT).

ATAMBUA, MEDIATIHAR.COM – Sebanyak 146 mahasiswa dan 10 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik GENTASKIN Batch 2 Tahun 2026 di Kabupaten Belu resmi ditarik kembali oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV. Penarikan dilakukan setelah para peserta menyelesaikan masa pengabdian sejak 9 Juli hingga 31 Agustus 2026.

​Acara pelepasan dan penutupan program Mahasiswa Berdampak tersebut berlangsung di Gedung Betelalenok Atambua, Senin (31/8/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Belu,Dekan Fakultas Vokasi Logistik Militer Unhan Ben Mboi Belu, Dandim 1605/Belu, Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad, pimpinan OPD, camat, serta para kepala desa lokasi penempatan.

​Perwakilan penyelenggara menjelaskan, program GENTASKIN Batch 2 mengusung tema Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif. Program ini merupakan perluasan dari batch pertama yang berfokus pada penanganan stunting dan percepatan pengentasan kemiskinan. Secara regional di Nusa Tenggara Timur (NTT), program ini melibatkan 2.319 mahasiswa dan 100 DPL dari 41 perguruan tinggi (3 PTN dan 38 PTS) yang tersebar di 13 kabupaten.

​Khusus di Kabupaten Belu, sebanyak 146 mahasiswa dan 10 DPL ditempatkan di 10 desa sasaran, meliputi Desa Fulur, Leowalu, Mauditmu, Teun, Renrua, Tialai, Tulakadi, Umaklaran, Halimodok, dan Tukuneno. Program kerja berfokus pada sektor kesehatan dan gizi, pemberdayaan ekonomi UMKM, pertanian, peternakan, perikanan, pendidikan, lingkungan, hingga digitalisasi desa. LLDikti XV menegaskan keberhasilan program diukur menggunakan instrumen penilaian dampak (impact measurement) berbasis evaluasi kondisi before-after.

​Dalam sambutannya, Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonzalves,S.T menegaskan bahwa tolok ukur utama keberhasilan KKN tidak diukur dari banyaknya jumlah kegiatan yang digelar, melainkan dari dampak nyata dan keberlanjutan program di tengah masyarakat.

​”Kita tidak ingin mahasiswa hanya datang ke desa, membuat kegiatan, lalu pulang tanpa bekas. Ukuran keberhasilan KKN adalah apa yang tersisa setelah mahasiswa kembali ke kampus. Jika masyarakat mampu melanjutkan inovasi dan ilmu yang ditinggalkan, di situlah letak dampaknya,” tegas Vicente Hornai  di hadapan peserta dan jajaran Forkopimda.

​Ia menambahkan, fokus KKN GENTASKIN sangat relevan dengan prioritas pembangunan daerah. Penanganan kemiskinan membutuhkan sinergi lintas sektor yang menggabungkan gagasan akademis, kearifan lokal, serta regulasi pemerintah daerah.

​Wakil Bupati Belu secara khusus menyampaikan permohonan maaf kepada pihak perguruan tinggi, DPL, dan mahasiswa terkait insiden perselisihan yang sempat terjadi antara oknum pemuda lokal dan mahasiswa KKN di Desa Renrua, Kecamatan Raimanuk.

​Vicente Hornai  memastikan persoalan tersebut telah diselesaikan secara damai melalui ruang dialog berbasis kearifan lokal Belu, yaitu Haktaek no Hakneter (saling menghormati dan menghargai).

​”Persaudaraan jauh lebih penting daripada ego. Kami mengapresiasi kebesaran hati semua pihak yang memilih jalan perdamaian. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga agar hubungan kekeluargaan antara masyarakat Belu dan civitas akademica tetap terjaga,” ungkapnya.

​Vicente Hornai juga berpesan agar para mahasiswa membawa serta membagikan cerita positif tentang keramahan masyarakat Belu, serta membuka diri untuk kembali sebagai mitra pembangunan di masa depan.

​Penarikan peserta KKN Tematik ini ditandai dengan penyerahan kembali mahasiswa dari Pemkab Belu kepada pimpinan perguruan tinggi mitra.

Turut hadir dalam acara tersebut Dekan Fakultas Vokasi Logistik Militer Unhan Ben Mboi Belu, Asisten Pemerintahan dan Kesra, Inspektur Inspektorat, para Kepala Dinas/Badan (Bapperida, Pendidikan, Kesehatan, PUPR, Sosial PMD, Kominfo, Pertanian), serta Camat Lamaknen, Raihat, Tasifeto Timur, dan Tasifeto Barat.

Pemkab Belu berharap seluruh hasil inovasi dan pendampingan yang telah dirintis dapat terus dirawat serta dikembangkan oleh pemerintah desa setempat.