Bupati Belu Willybrodus Lay SH menegaskan pentingnya menjaga jati Diri Bangsa dengan mendorong Bahasa Tetun masuk dalam kurikulum mulok.
ATAMBUA, Mediatihar.Com – Bupati Belu, Willybrodus Lay SH menegaskan pentingnya menjaga jati diri bangsa di beranda terdepan NKRI dengan mendorong Bahasa Tetun masuk dalam kurikulum muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah. Hal tersebut disampaikan Bupati saat menghadiri Lomba Paduan Suara Mars dan Hymne PGRI tingkat Kabupaten Belu di Gedung Betelalenok, Atambua, Jumat (30/4/2026).
Menurut Bupati, sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, Kabupaten Belu harus memiliki kekhasan pendidikan yang berbasis pada kearifan lokal.
Bupati memandang bahwa pelestarian bahasa daerah bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan upaya memperkuat identitas kultural masyarakat perbatasan.
“Bahasa Tetum harus masuk dalam muatan lokal. Ini adalah identitas budaya kita di wilayah perbatasan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda melalui jalur formal di sekolah,” tegas Bupati Belu.
Langkah ini diharapkan dapat membuat para siswa di Belu tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kebanggaan terhadap akar budaya mereka sendiri.
Selain masalah muatan lokal, Bupati memberikan catatan keras terkait kualitas literasi dasar. Ia menginstruksikan para guru untuk memastikan siswa kelas 1 dan 2 SD sudah tuntas baca-tulis sebelum naik ke jenjang berikutnya.
“Jangan sampai ada siswa kelas atas yang belum lancar. Jika ditemukan, panggil orang tuanya dan berikan pendampingan khusus,” imbuhnya.
Dalam visi jangka panjangnya, Bupati juga menggagas agar kegiatan seni dan budaya seperti yang dilakukan PGRI saat ini bisa dikembangkan menjadi festival lintas negara (Indonesia-Timor Leste). Hal ini dinilai mampu mempererat hubungan diplomasi melalui pendekatan budaya.
Kegiatan lomba yang mengusung tema “Melodi Pendidikan, Guru Bergerak, Indonesia Pintar” ini menjadi momentum kebangkitan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Belu.
Ketua PGRI Belu, Yanuarius Wadan, menjelaskan bahwa sejak Desember 2025, pihaknya telah melakukan langkah transformasi besar untuk membenahi organisasi yang sempat vakum.
Digitalisasi: Hampir 1.000 guru di Belu kini telah terdaftar melalui KTA digital.
Inovasi Seni: Penampilan lagu Mars dan Hymne PGRI dalam format empat suara (SATB) hasil kolaborasi dengan pelatih asal Kupang.
“Dari Belu, kita berani berinovasi. Suara guru adalah suara masa depan bangsa,” ujar Yanuarius.
Lomba yang diikuti oleh 11 tim perwakilan cabang PGRI se-Kabupaten Belu ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ketua Panitia, Ony Ratu Dabo, menyatakan bahwa ajang ini merupakan ruang ekspresi bagi para guru untuk melepas penat sekaligus mempererat solidaritas antar-pendidik di wilayah perbatasan.
Acara dibuka secara resmi dengan pemukulan gong oleh Ketua DPRD Belu, Theodorus Manehitu Djuang, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Belu, Bank NTT, BPJS Kesehatan, dan Polres Belu.
