Wujudkan Pengelolaan Hutan Terintegrasi di Perbatasan, Peneliti UKAW Gelar Dialog Multi Pihak di Atambua
Atambua,Mediatihar.Com– Upaya mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan di wilayah perbatasan terus diperkuat. Sejumlah peneliti dari Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang menggelar Dialog Multi Pihak bertajuk EXPLORE CN040 yang melibatkan warga dari Desa Fatulotu, Desa Alas, dan Desa Alas Selatan di Atambua, Senin (27/4).
Kegiatan yang mengusung tema “Mengelola Hutan Berbasis Keterkaitan Hutan, Air, Energi, dan Makanan di Wilayah Perbatasan Indonesia” ini bertujuan untuk mensinergikan pengelolaan ekosistem hutan dengan kebutuhan dasar masyarakat secara terintegrasi.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara UKAW Kupang dengan berbagai lembaga nasional dan internasional, termasuk:
Pemerintah Swedia
RECOFTC
CIFOR-ICRAF (World Agroforestry)
Berbagai institusi pendidikan di bidang lingkungan dan kehutanan.
Rangkaian kegiatan ini dirancang untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam aspek pelestarian lingkungan, ketahanan pangan, dan akses energi bersih yang berkelanjutan bagi masyarakat pinggiran.
Ketua Peneliti, Profesor Jonathan Koehuan, menjelaskan bahwa wilayah perbatasan memiliki karakteristik ekologis dan sosial-ekonomi yang unik, sehingga tidak bisa dikelola dengan pendekatan parsial atau terpisah-pisah.
”Hutan bukan sekadar aset ekologis, tetapi juga penyangga ketersediaan air, sumber energi, dan penunjang produksi pangan masyarakat. Pendekatan terintegrasi menjadi keharusan agar manfaatnya terasa dalam jangka panjang,” ujar Prof. Jonathan.
Dalam dialog tersebut, berbagai pihak mulai dari masyarakat adat, perangkat desa, akademisi, hingga perwakilan kelompok perempuan dan pemuda duduk bersama mengidentifikasi tantangan lokal. Beberapa isu krusial yang mencuat antara lain:
Degradasi hutan di wilayah perbatasan.
Fluktuasi ketersediaan air bersih.
Keterbatasan akses energi.
Ancaman terhadap ketahanan pangan lokal.
Prof. Jonathan menambahkan bahwa pendekatan keterkaitan antar-sektor (nexus approach) ini telah terbukti efektif di berbagai belahan dunia. Ia berharap model ini dapat diadaptasi sesuai kearifan lokal di Atambua.
“Melalui kerja sama lintas pihak, kita dapat menyusun solusi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pengelola utama sumber daya alam,” tambahnya.
Hasil dari dialog ini nantinya akan dijadikan acuan dalam penyusunan rencana aksi pengelolaan hutan di tiga desa mitra. Selain itu, program ini diharapkan menjadi model pengembangan yang dapat direplikasi di wilayah perbatasan lainnya di seluruh Indonesia sebagai bagian dari komitmen pembangunan nasional di daerah terdepan.
