Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi NTT melaksanakan pelatihan pengolahan ikan untuk menekan angka stunting dan kemiskinan ekstrem
BELU,Mediatihar.Com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) mengambil langkah konkret untuk menekan angka stunting dan kemiskinan ekstrem melalui sektor perikanan. Upaya ini diwujudkan lewat Pelatihan Pengolahan Hasil Perikanan dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) di Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Intervensi Perangkat Daerah Berbasis Desa yang mengusung konsep One Village One Product (OVOP).
Dalam sambutannya, Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Alexon Lumba, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa tantangan stunting di NTT harus dijawab dengan optimalisasi potensi lokal. Menurutnya, sangat ironis jika daerah dengan sumber daya laut yang kaya masih menghadapi masalah gizi tinggi.
”Stunting bukan hanya soal fisik, tetapi menyangkut kualitas SDM masa depan NTT. Ikan adalah sumber protein murah dan berkualitas. Melalui pelatihan ini, kita hubungkan perbaikan gizi dengan penguatan ekonomi,” ujar Alexon di hadapan para peserta.
Ia mendorong Desa Naitimu untuk melahirkan produk unggulan olahan ikan, seperti abon, nugget, atau bakso ikan. Produk-produk tersebut diharapkan memiliki nilai jual tinggi sehingga mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga sekaligus menjadi sumber nutrisi keluarga.

Tidak hanya memberikan teori, Pemerintah Provinsi NTT juga menyerahkan bantuan peralatan produksi secara simbolis kepada enam kelompok masyarakat. Bantuan tersebut terdiri dari:
6 unit freezer (lemari pembeku).
6 unit spinner (peniris minyak).
6 unit hand sealer (alat pengemas).
6 unit alat stempel label.
180 kg ikan tuna segar sebagai bahan baku awal.
Selain bantuan alat, program ini menyasar 50 peserta GEMARIKAN yang terdiri dari siswa SD, TK, dan kader Posyandu. Sebanyak 40 paket olahan ikan diberikan kepada anak-anak dan 10 paket untuk ibu hamil sebagai bentuk intervensi gizi langsung.
Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta dari enam kelompok pengolah. Mereka dibekali materi teknis mulai dari pengolahan higienis, teknik pengemasan agar produk tahan lama, hingga strategi pemasaran untuk menembus pasar yang lebih luas.
”Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti sebagai seremonial, tetapi benar-benar melahirkan pelaku usaha baru dan produk unggulan desa yang mandiri,” tambah Alexon.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Belu, Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Wilayah I, serta jajaran perangkat desa setempat. Sinergi antara pemerintah provinsi dan daerah ini diharapkan dapat menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesadaran konsumsi ikan demi mewujudkan generasi NTT yang sehat, cerdas, dan kuat.











