Tembus 3.290 Penerima Manfaat, Program Makan Bergizi Gratis Sasar Pelajar di Jantung Perbatasan Belu

Program MBG Memberikan dampak nyata Bagi warga kabupaten Belu tidak hanya menyalurkan makanan bergizi tapi juga berdampak pada peningkatan ekonomi.

ATAMBUA,MEDIATIHAR.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto mulai memberikan dampak nyata di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste (RI-RDTL).

Selain memperbaiki kualitas gizi penerima manfaat, program ini terbukti menjadi mesin penggerak ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

​Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai garda terdepan penyaluran makanan bergizi di daerah, kini mulai membuka lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan daya beli masyarakat setempat.

​Kepala SPPG Manuaman, Jefry Mau, menjelaskan bahwa SPPG tidak hanya berfokus pada distribusi makanan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi. Di SPPG Manuaman, Kecamatan Atambua Selatan, sebanyak 51 tenaga kerja telah direkrut.

​”Kami mempekerjakan 48 orang relawan dan 3 orang staf. Dalam rekrutmen, kami memprioritaskan masyarakat yang masuk dalam kategori Desil 1 dan Desil 2 (masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah), serta warga yang berdomisili di sekitar lokasi SPPG,” ujar Jefry saat memberikan keterangan kepada media.

​Menurut Jefry, kebijakan ini diambil agar kehadiran unit pelayanan pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya secara langsung oleh ekonomi rumah tangga di sekitar lokasi operasional.

​Hingga saat ini, SPPG Manuaman telah melayani sedikitnya 3.290 penerima manfaat. Cakupan tersebut meliputi anak-anak di tingkat PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA, serta sasaran layanan di Posyandu yang tersebar di wilayah Kecamatan Atambua Selatan.

​Meski berjalan positif, Jefry mengakui adanya tantangan teknis dalam operasional dapur SPPG, terutama terkait konsistensi rantai pasok bahan baku makanan.

​”Tantangan utama kami adalah rantai pasok bahan baku seperti daging dan buah-buahan. Saat ini, untuk komoditas buah-buahan, kami bahkan masih harus mendatangkannya dari Kupang,” ungkapnya.

​Mengingat luasnya wilayah perbatasan, Jefry berharap pemerintah pusat maupun daerah melalui lembaga terkait dapat menambah jumlah unit dapur SPPG di Kabupaten Belu. Pasalnya, saat ini belum semua sekolah di pelosok kampung terjangkau oleh layanan MBG.

​”Masih banyak sekolah di kampung-kampung yang belum tersentuh. Kami berharap pemerintah menambah jumlah dapur agar seluruh anak di perbatasan RI-RDTL dapat menikmati program ini secara merata,” pungkasnya.