Atambua, Mediatihar.com – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua kembali menoreh prestasi gemilang di bidang pertanian. Kali ini, mereka sukses mengembangkan sayuran jenis kol yang menghasilkan panen raya di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) milik lembaga tersebut, Kamis (20/11/25).
Sebanyak 30 batang kol yang segar dan subur dipanen dari lahan seluas 3.500 meter² yang dikelola secara teratur oleh WBP. Acara panen perdana ini diisi dengan kegembiraan, di mana para WBP bekerja sama dengan petugas lapas untuk memetik hasil kerja keras mereka selama beberapa minggu.
Kepala Lapas (Kalapas) Bambang Hendra Setyawan terlibat langsung dalam kegiatan panen tersebut, bersama dengan Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja Andra Sukabir, Kepala Sub Seksi Keamanan Yohanes Radja, dan seluruh WBP yang tergabung dalam kelompok tani La’Bua. Kehadiran pimpinan lapas menjadi semangat tambahan bagi para WBP yang telah berjuang merawat tanaman.
Dalam sambutannya, Hendra menyatakan bahwa penen ini bukan hanya hasil panen biasa, tetapi bukti sahih bahwa WBP di Lapas Atambua tidak hanya menjalani masa pidana. “Mereka juga aktif menjadi agen produktif yang berkontribusi langsung pada ketahanan pangan, khususnya di lingkungan Lapas dan wilayah perbatasan Atambua,” terang dia dengan bangga.
Lebih lanjut, Hendra menjelaskan bahwa panen kol ini merupakan hasil dari pengembangan program pembinaan kemandirian yang telah berjalan selama beberapa bulan. Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada WBP untuk mempelajari keterampilan baru dan merasa berguna meskipun dalam masa pemasyarakatan.
Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja Andra Sukabir menerangkan proses budidaya kol yang melalui serangkaian tahapan yang teliti. “WBP melakukan perawatan intensif mulai dari pengolahan lahan, pembibitan, penyemaian, hingga pemeliharaan harian,” jelasnya. Setiap tahapan dipantau oleh petugas dan tenaga ahli pertanian untuk memastikan hasil yang optimal.
Menurut Andra, kegiatan bertani ini tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga memberikan bekal keterampilan bertani yang profesional kepada WBP. “Keterampilan ini diharapkan menjadi modal penting ketika mereka kembali ke masyarakat nanti, baik untuk bekerja atau bahkan memulai usaha sendiri di bidang pertanian,” tambahnya.
Salah seorang WBP yang terlibat dalam program, Agus, menyampaikan rasa senangnya yang luar biasa dapat berpartisipasi dalam budidaya kol. “Rasanya sangat bangga melihat kol yang kami tanam tumbuh subur dan bisa dipanen,” ungkapnya dengan antusias. Dia mengaku sebelumnya tidak punya keterampilan bertani sama sekali.
“Dulu kami tidak punya ilmu apapun tentang pertanian, sekarang kami punya pengetahuan dan rasa percaya diri bahwa kami bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain,” kata Agus sambil memegang salah satu batang kol yang baru dipetik.
Hasil panen kol ini akan dimanfaatkan ganda untuk kepentingan bersama. Pertama, sebagian besar hasil panen akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian di dapur Lapas, memastikan asupan sayuran segar dan sehat bagi seluruh WBP dan petugas.
Kedua, sebagian kecil hasil panen juga akan dipasarkan kepada masyarakat sekitar. Langkah ini tidak hanya mempererat hubungan antara Lapas dan komunitas lokal, tetapi juga berpotensi meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dapat digunakan untuk membenahi fasilitas di dalam lapas.
Program ketahanan pangan Lapas Atambua ini sejalan dengan arahan pimpinan nasional untuk memberdayakan WBP. Tujuan akhirnya adalah menjadikan Lapas sebagai pusat pembinaan yang tidak hanya memulihkan kepercayaan sosial WBP, tetapi juga menciptakan sumber daya manusia yang terampil, produktif, dan siap berwirausaha setelah bebas dari pemasyarakatan.












