Sergio Natalino putra kansi anggota DPRD kabupaten Belu dari partai Hanura angkat Bicara terkait kelangkaan Minyak Tanah di kabupaten Belu.
ATAMBUA,MEDIATIHAR.COM – Kelangkaan minyak tanah melanda Kota Atambua, wilayah perbatasan RI-Timor Leste, selama hampir satu bulan terakhir. Kondisi ini memicu keluhan meluas di tengah masyarakat lantaran harga di tingkat pengecer melonjak drastis hingga mencapai Rp50.000 sampai Rp60.000 per 5 liter.
Menanggapi situasi krusial tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Belu dari Partai Hanura, Sergio Natalino Kansi Putra, melayangkan kritik keras kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Belu. Ia menilai langkah pengawasan yang dilakukan pemerintah sejauh ini mandek dan belum membuahkan hasil nyata bagi masyarakat.
”Kelangkaan minyak tanah di Belu tidak boleh dianggap biasa. Pemerintah dan pihak terkait harus segera memastikan pasokan tersedia dan distribusi berjalan tepat sasaran,” ujar Sergio saat memberikan keterangan kepada media.
Menurut Sergio, prioritas utama pemerintah saat ini adalah menjamin agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok untuk memasak dan memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Ia pun mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Belu beserta para agen untuk segera mengambil langkah konkret di lapangan.
”Saya meminta agen minyak tanah menjelaskan kondisi pasokan yang terjadi saat ini, dan Disperindag harus segera melakukan pengawasan menyeluruh terhadap distribusi di lapangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sergio meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk tidak segan-segan mengambil tindakan hukum jika ditemukan adanya praktik curang di tengah masa kelangkaan ini.
”Jika ditemukan adanya penimbunan, penyalahgunaan kuota, atau permainan harga, maka harus ditindak tegas. Kepentingan masyarakat harus menjadi prioritas utama,” pungkas Sergio.












