Mendagri Kagumi Kampung Adat Matabesi di Belu: Layak Dikenal Dunia

BERITA, DAERAH, SOSBUD162 Views

Mendagri Muhamad Tito Karnavian mengunjungi Kampung Adat Matabesi di Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat.(Foto: istimewa).

BELU,MEDIATIHAR.COM — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sela kunjungannya, Mendagri menilai Kampung Adat Matabesi di Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat, memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata budaya tingkat internasional.

Dalam kunjungan tersebut, Mendagri didampingi oleh Ketua Umum TP PKK Tri Tito Karnavian, Gubernur NTT Melki Laka Lena beserta istri, serta Bupati Belu Willybrodus Lay yang hadir bersama Ketua Dekranasda Belu dan Wakil Bupati Belu.

​Sebelum menyambangi kampung adat tersebut pada Minggu (28/6/2026), Mendagri telah mengikuti sejumlah agenda di Kabupaten Belu. Di antaranya adalah menghadiri parade peragaan busana (fashion show) di Mall Plaza Perizinan pada Jumat (26/6/2026), serta menghadiri Festival Fulan Fehan pada Sabtu (27/6/2026).

​Tito menyebut, keaslian rumah adat, kekayaan sejarah, serta tradisi yang masih terjaga di Kampung Adat Matabesi membuatnya sangat layak diperkenalkan di tingkat nasional maupun global. Ia pun mengapresiasi masyarakat adat setempat yang konsisten mempertahankan warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

​Mendagri mengungkapkan bahwa Kampung Adat Matabesi memiliki kemiripan dengan Desa Wisata Wae Rebo di Kabupaten Manggarai. Namun, Matabesi menawarkan keunikan tersendiri dari sisi sejarah serta aksesibilitas yang jauh lebih mudah dijangkau oleh wisatawan.

​”Kali ini saya melihat ada sesuatu yang berbeda di sini. Mirip dengan Wae Rebo, tetapi memiliki kekhasan dan sejarah sendiri. Kalau ke Wae Rebo harus berjalan kaki sekitar dua jam, sementara ke sini bisa langsung menggunakan kendaraan. Ini menjadi nilai tambah bagi pengembangan pariwisata,” ujar Tito.

​Ia menambahkan, nilai sejarah Kampung Adat Matabesi perlu terus ditelusuri, didokumentasikan, dan dipublikasikan. Langkah ini dinilai penting agar menjadi warisan pengetahuan bagi generasi mendatang, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Belu.

​Lebih lanjut, Mendagri memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu atas komitmen kuat dalam menjaga dan mengembangkan kawasan adat tersebut.

​”Saya menyampaikan apresiasi kepada Bupati Belu yang memiliki kepedulian untuk melestarikan tempat ini. Dibutuhkan komitmen yang kuat agar warisan budaya seperti ini tetap terjaga,” tegasnya.

​Di sela-sela kunjungan tersebut, Tito turut meninjau Museum Fohorai yang berada di dalam kawasan Kampung Adat Matabesi. Ia menilai museum tersebut berpotensi besar menjadi pusat edukasi budaya yang representatif jika dilengkapi dengan koleksi yang lebih menyeluruh.

​Mendagri menyarankan agar pihak pengelola tidak hanya menampilkan kain tenun ikat khas, melainkan juga berbagai aspek kehidupan masyarakat Belu lainnya, seperti alat pertanian tradisional hingga perlengkapan ritual adat yang bernilai sejarah.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *