Masyarakat Fatubenao Apresiasi Pasar Murah Disperdagind: Solusi Tepat Atasi Kelangkaan di Atambua

Ket: Atasi kelangkaan minyak Tanah Disperdagind Belu menggandeng PT Pertamina dan agen resmi PT Pilar Yohanes  menyalurkan minyak tanah dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp4.000 per liter.

ATAMBUA, MEDIATIHAR.COM — Ratusan warga  menyerbu operasi pasar (extra dropping) minyak tanah bersubsidi di Taman Kota Atambua, Kabupaten Belu, Kamis (16/7/2026). Operasi pasar yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagind) ini digelar sebagai langkah tanggap darurat mengatasi kelangkaan energi di wilayah perbatasan RI-Timor Leste tersebut.

​Dalam operasi pasar ini, Disperdagind Belu menggandeng PT Pertamina dan agen resmi PT Pilar Yohanes untuk menyalurkan minyak tanah dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp4.000 per liter. Intervensi ini menyasar warga dari dua wilayah terdampak, yakni Kelurahan Atambua Kota dan Kelurahan Fatubenao.

​Merespons intervensi tersebut, Lurah Fatubenao, Nobert Bere Mau, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah cepat Pemkab Belu dan Disperdagind. Kendati demikian, Nobert menggarisbawahi bahwa kuota bantuan yang dialokasikan saat ini masih jauh dari kebutuhan riil warganya di lapangan.

​”Hari ini kuota untuk Kelurahan Fatubenao sebanyak 2.400 liter dan telah dibagikan kepada 240 Kepala Keluarga (KK). Namun, jumlah ini tentu belum menjangkau semua warga, karena total ada sekitar 900 KK di kelurahan kami,” ujar Nobert saat memantau lokasi, Kamis (16/7).

​Melihat tingginya urgensi dan antusiasme masyarakat, Nobert berharap Disperdagind Belu dapat menambah kuota pasokan dan menggelar operasi pasar ini secara berkala guna menekan ruang gerak spekulan.

​”Harapan kami kegiatan ini minimal bisa dilakukan dua kali dalam sebulan. Kami juga meminta kuotanya ditambah untuk pembagian berikutnya agar seluruh warga bisa kebagian dan tidak mengalami kelangkaan lagi,” tambahnya.

​Langkah taktis dari Disperdagind ini dinilai sangat krusial oleh warga. Salah seorang warga Kelurahan Atambua Kota, Yustina, mengaku rela mengantre sejak pukul 07.00 WITA demi mendapatkan minyak tanah murah, menyusul melonjaknya harga di tingkat pengecer.

​”Kalau beli di pengecer mahal sekali, satu botol besar bisa sampai Rp15.000. Sementara di pangkalan, setiap kali kami tanya selalu dibilang sudah habis,” ungkap Yustina.

​Hal senada diungkapkan Mia, warga Kelurahan Fatubenao. Meski harus mengantre lebih dari satu jam, ia merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan operasi pasar dari pemerintah ini.

​Melalui operasi pasar ini, Pemkab Belu dan Disperdagind berkomitmen untuk terus memantau dan menekan spekulasi harga di tingkat pengecer, sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi bagi masyarakat di tapal batas.