Guru dan Siswa Terjang Banjir, Anggota DPRD Belu Desak Pemda ‘Jemput Bola’ Dana Pusat untuk Jembatan Lawalutolus

Anggota DPRD Kabupaten Belu dari Daerah Pemilihan (Dapil) setempat, Sergio Natalino Kansi Putra.

BELU,Mediatihar COM – Aksi heroik sekaligus membahayakan yang dilakukan guru dan siswa SDK Laninis, Desa Lawalutolus, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak viral di media sosial. Mereka terpaksa menerjang derasnya arus sungai demi menjaga keberlangsungan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

​Dalam video yang beredar, tampak para guru harus saling berpegangan tangan membentuk rantaian manusia. Langkah ekstrem ini diambil untuk melindungi para siswa agar tidak hanyut terbawa luapan arus sungai saat menuju sekolah.

​Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Belu dari Daerah Pemilihan (Dapil) setempat, Sergio Natalino Kansi Putra, menyatakan keprihatinan yang mendalam. Ia menegaskan bahwa keselamatan nyawa di dunia pendidikan tidak boleh dikompromikan.

​”Saya sangat prihatin dengan kondisi guru dan siswa SDK Laninis yang harus menyeberangi sungai saat banjir. Ini adalah situasi berbahaya dan tidak seharusnya terjadi dalam dunia pendidikan,” ujar Sergio saat dihubungi, Selasa (20/1/26).

​Sergio mengakui bahwa rencana pembangunan jembatan di Desa Lawalutolus sebenarnya sudah pernah dibahas dalam agenda daerah. Namun, realisasinya terkendala oleh keterbatasan anggaran.

​”Secara jujur harus saya sampaikan, ada keterbatasan keuangan daerah. Meski demikian, anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keselamatan,” tegasnya.

​Sebagai langkah konkret, Sergio bersama rekan-rekan di Komisi III DPRD Belu berkomitmen untuk mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu agar segera mencari solusi alternatif.

​”Kami mendorong pemerintah daerah menyiapkan langkah darurat yang aman, serta mengupayakan dukungan pendanaan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat,” tambah Sergio.

​Kondisi sulit ini dibenarkan oleh Matilda Soi, salah satu guru di SDK Laninis. Ia mengungkapkan bahwa setiap musim penghujan tiba, perjalanan menuju sekolah menjadi beban psikologis yang berat bagi para tenaga pendidik dan siswa.

​”Saat musim hujan kami stres karena harus melewati dua kali (sungai), kali besar dan kali kecil. Seringkali kami harus menunggu berjam-jam sampai banjir reda baru bisa melintas,” ungkap Matilda.

​Ia berharap pemerintah segera membangun fasilitas jembatan yang memadai agar akses pendidikan di wilayah perbatasan tersebut tidak lagi bertaruh nyawa.

​”Harapan kami, pemerintah bisa membantu membangun jembatan demi masa depan anak-anak,” tutupnya.

​Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari dinas terkait mengenai rencana teknis pembangunan jembatan di lokasi tersebut. Masyarakat berharap respons cepat pemerintah sebelum jatuh korban jiwa