Bukan Buatan Manusia, Mendagri Sebut Festival Fulan Fehan Adalah Mahakarya Tuhan yang Siap Mendunia

BERITA, DAERAH, SOSBUD114 Views

Menteri dalam negeri Muhammad Tito Karnavia mengungkapkan kekagumannya terhadap sabana Fulan fehan dan festival Fulan fehan,Ini maha karya Tuhan Bukan manusia.

BELU,MEDIATIHAR.COM– Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026 yang digelar di Savana Fulan Fehan, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (27/6/2026). Mendagri menilai festival budaya tahunan ini sangat layak ditingkatkan menjadi agenda bertaraf internasional.

Foto: Mendagri didampingi Rombongan tiba di sabana Fulan fehan.

​Apresiasi tersebut disampaikan Mendagri usai menyaksikan langsung tarian kolosal Likurai dan pesona kain tenun khas Belu yang dibawakan oleh anak anak sekolah.

​”Saya merasa bangga dan bahkan iri setelah melihat kain adat tenun dari Belu. Kekayaan tenun dari NTT semakin memperkaya kebanggaan saya sebagai bangsa Indonesia karena kita memiliki kekayaan budaya dan seni yang luar biasa,” ujar Tito Karnavian

​Tito menegaskan bahwa tenun Belu dan tenun NTT secara umum bukan sekadar karya seni biasa, melainkan hasil peradaban tinggi yang diwariskan secara turun-temurun selama ribuan tahun. Ia meyakini keunikan dan keindahan kain tradisional ini mampu memikat perhatian dunia mode (fashion) internasional.

​”Pakaian tenun yang diperlihatkan kepada kami, saya yakin bisa membuat dunia iri. Kain ini tidak dibuat begitu saja, tetapi lahir ribuan tahun yang lalu, diwariskan dari generasi ke generasi, dan semakin indah dari waktu ke waktu,” tambahnya.

​Atas komitmen pelestarian budaya tersebut, Mendagri menyampaikan terima kasih kepada Bupati Belu Willybrodus Lay, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, para pengrajin tenun, serta seluruh pihak terkait.

​Selain mengagumi kekayaan budaya, mantan Kapolri ini juga mengaku terkesan oleh keindahan alam Lembah Savana Fulan Fehan yang menjadi latar belakang acara. Ia membandingkannya dengan berbagai fasilitas megah di kota-kota besar yang dibangun oleh manusia.

​”Ini pertama kali saya datang ke Fulan Fehan. Di Jakarta ada Gelora Bung Karno, di Bandung ada Stadion Jalak Harupat, atau di Bali ada berbagai tempat yang dibangun manusia. Tetapi di sini kita menikmati padang savana yang indah, dikelilingi Gunung Lakaan, dengan udara segar yang semuanya adalah karya Tuhan Yang Maha Kuasa untuk masyarakat Belu, NTT, dan Indonesia,” tuturnya.

​Festival Fulan Fehan IV tahun ini mengusung tema “Dance for Friendship” (Menari untuk Persahabatan). Tema ini diwujudkan melalui tarian kolosal yang menyatukan empat suku di sekitar Belu menjadi satu kesatuan yang harmonis.

​Dalam kesempatan tersebut, Mendagri juga mengutip pesan dari Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya menjaga hubungan baik.

​”Bapak Presiden Prabowo menyampaikan, ‘Seribu kawan tidak cukup, satu musuh sudah terlalu banyak’ (1,000 friends are not enough, one enemy is already too many). Empat suku bergabung menjadi satu, berdansa bersama, membangun persahabatan yang baik,” jelas Tito.

Foto: 3.900 penari tampil menghipnotis Mendagri dan delegasi luar negeri.

​Nuansa persahabatan tersebut semakin kuat dengan kehadiran delegasi dari negara tetangga, Timor Leste, serta perwakilan Mayor dari Darwin, Australia. Mendagri berharap kehadiran lintas negara ini dapat mempererat hubungan diplomatik kedua negara tetangga melalui jalur kebudayaan.

​”Kehadiran saudara-saudara kita dari Timor Leste dan Darwin, Australia semakin memperbanyak sahabat kita. Persahabatan jauh lebih berharga dan harus terus kita bangun dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

​Mendagri berharap Festival Fulan Fehan dapat kembali digelar tahun depan dengan persiapan yang lebih meriah untuk mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di perbatasan RI-Timor Leste.