Pimpin WALHI NTT, Yuvensius Stefanus  Usung Keadilan Ekologis dan Demokrasi Substantif

ALAM, BERITA, DAERAH1187 Views

Waingapu, Mediatihar.com – Yuvensius Stefanus Nonga resmi memimpin Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk periode 2025-2029. Terpilih dalam Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH) ke-IX di Uma Bara, Kampung Adat Prailiu, Sumba Timur, pada 25 September 2025, Yuvensius bertekad membawa WALHI NTT menuju gerakan keadilan ekologis yang inklusif dan demokratis.

Dalam rilis Pers yang dikirimkan ke media ini, Jumat, (03/09/25), Yuvensius menegaskan visinya untuk mewujudkan keadilan ekologis di NTT dengan membangun konsolidasi gerakan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Kita harus memastikan kedaulatan rakyat atas tanah, air, dan sumber-sumber kehidupan. Krisis ekologi di NTT ini adalah akibat dari demokrasi yang rapuh dan tunduk pada oligarki,”

Yuvensius menggantikan Umbu Wulang Tanamah Paranggi, dengan membawa semangat baru untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat NTT.

Selain pemilihan direktur eksekutif, PDLH juga menetapkan lima anggota Dewan Daerah WALHI NTT, yaitu Triawan Umbu Uli Mehakati, Carolus Winfridus Keupung, Lalu Paskalis, Sarah Lery Mboeik, dan Ewaldina Soro. Mereka akan bertugas menggantikan Pantoro Tri Kuswardono, Farida Padu Leba, dan Marselinus Ali Asang.

Menurut Yuvensius, perjuangan ekologis harus ditempatkan dalam kerangka memperjuangkan demokrasi substantif yang benar-benar menjamin hak rakyat, bukan hanya demokrasi prosedural yang berhenti pada pemilu.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan semua kelompok terdampak, termasuk masyarakat adat, petani, nelayan, perempuan, kaum muda, buruh, dan kelompok marginal lainnya.

“Solidaritas lintas sektor dan lintas isu diperlukan untuk membangun kekuatan yang cukup besar untuk menantang dominasi oligarki,” tulisnya

Yuvensius juga menyoroti bahwa NTT memiliki kekayaan ekologis yang unik, namun juga memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim.

Investasi pertambangan, monokultur, ekspansi pariwisata skala besar, dan proyek strategis nasional lainnya telah merusak lingkungan dan memicu konflik sosial di NTT. WALHI NTT melihat bahwa demokrasi lokal justru memperparah krisis ini dengan melegitimasi perampasan ruang hidup rakyat.

Oleh karena itu, WALHI NTT berkomitmen untuk terus memperjuangkan keadilan ekologis dan demokrasi yang sebenarnya, memastikan kedaulatan rakyat atas tanah dan sumber kehidupannya. Yuvensius mengajak seluruh elemen masyarakat NTT untuk bersatu dalam gerakan ini.

“Perjuangan keadilan ekologis di NTT bukan hanya soal menyelamatkan lingkungan, tetapi juga soal merebut kembali makna demokrasi yang sejati. Kita harus membangun kekuatan kolektif untuk menantang dominasi oligarki dan memperjuangkan hak-hak masyarakat. ”

Dengan kepemimpinan baru ini, WALHI NTT diharapkan dapat semakin aktif dalam mengadvokasi kebijakan yang berpihak pada lingkungan dan masyarakat NTT. Yuvensius mengajak seluruh anggota WALHI NTT untuk bekerja keras dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan bersama.

“Mari kita jadikan WALHI NTT sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan keadilan ekologis dan demokrasi substantif di Nusa Tenggara Timur. Bersama, kita bisa mewujudkan NTT yang lebih baik,” tulis Yuvensius

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *