Sempat ‘Mati Suri’, Budaya Belu Kini “bangkit dari tidur panjang” ! Intip Strategi Bupati Willy Lay Rebut Kembali Perhatian Dunia

BERITA, DAERAH, SOSBUD773 Views

Foto: Bupati Belu Willybrodus Lay,S H dan wakil Bupati Belu vicente Hornai gonsalves S.T.

Belu,Mediatihar.Com – Kabupaten Belu kembali mengukuhkan posisinya sebagai representasi kekuatan budaya Indonesia di kancah nasional dan internasional. Di bawah kepemimpinan Bupati Willybrodus Lay,S.H Dan wakil Bupati Vincente Hornai Gonsalves S.T, kekayaan intelektual masyarakat perbatasan—mulai dari Tenun Ikat hingga Festival Fulan Fehan—kini resmi “bangkit dari tidur panjang” dan kembali mengguncang panggung dunia.

​Keberhasilan ini diawali dengan penampilan memukau Tenun Belu dalam ajang Eco Fashion Show Warlami yang digelar oleh Kementerian Desa dan PDTT di Jakarta (27/10/2025) lalu.

Mengusung konsep pewarna alam, koleksi tenun Belu berhasil mencuri perhatian para menteri Kabinet Merah Putih, termasuk Menteri PDT, Ratu Rachmatu Zakiyah, yang tampil anggun mengenakan kain khas Belu tersebut.

​Bupati Willybrodus Lay hadir langsung untuk mengawal promosi warisan leluhur ini. Kehadirannya dipandang sebagai simbol keberpihakan pemerintah terhadap ekonomi kreatif berbasis budaya.

​”Kami sangat bangga tenun Belu kembali hadir di ibu kota. Ini bukan sekadar kain, melainkan identitas dan jati diri masyarakat Belu yang memiliki daya saing tinggi,” ujar Ketua PKK Kabupaten Belu, Ny. Vivi Ng Lay.

​Tidak berhenti di sektor sandang, Bupati Willy Lay juga memberikan sinyal kuat kebangkitan pariwisata melalui Festival Fulan Fehan. Setelah sempat meredup, ajang legendaris yang pernah mencatatkan rekor MURI dengan 6.000 penari Likurai ini dipastikan akan kembali digelar besar-besaran pada tahun 2026.

​Kepastian ini disampaikan langsung oleh Bupati Willy saat mendampingi Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polkam, Mohammad K. Koba, di sabana Fulan Fehan, Kamis (12/02/2026).

​Empat Misi Strategis Kebangkitan Fulan Fehan:

​Promosi Global: Mengukuhkan Fulan Fehan sebagai destinasi unggulan NTT.

​Pelestarian Warisan: Menampilkan kembali Tari Likurai, Tarian Antama, dan Orkes Suling Bambu.

​Diplomasi Perbatasan: Mempererat hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Timor Leste.

​Katalisator Ekonomi: Menciptakan peluang pendapatan baru bagi masyarakat lokal, khususnya di Kecamatan Lamaknen.

​Langkah strategis yang diambil Bupati Willy Lay bersama Wakil Bupati Vicente Hornai Gonsalves menunjukkan arah baru pembangunan Belu yang tidak meninggalkan akar budaya. Sinergi antara promosi produk lokal (Tenun) dan manajemen event berskala internasional (Fulan Fehan) diharapkan menjadi mesin utama penggerak ekonomi kerakyatan di beranda terdepan NKRI.

​”Tahun ini, kita rebut kembali marwah itu. Pemerintah Kabupaten Belu berkomitmen menghidupkan kembali ruh festival yang membawa nama daerah kita mendunia,” tegas Bupati Willy dengan optimis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *