Jalan Rp200 Juta ‘Disulap’ Jadi Debu: Warga Soroti Proyek Loonuna, Kades Ditagih Janji Material Tambahan

​BELU,Mediatihar.Com – Proyek pembangunan jalan desa di Loonuna, Kecamatan Lamaknen Selatan, Belu, yang didanai dari Dana Desa senilai sekitar Rp200 Juta menuai protes keras dari warga.

Pekerjaan yang seharusnya meningkatkan infrastruktur ini disorot karena diduga dilakukan secara asal-asalan, hanya diratakan (digilas) tanpa penambahan material yang dijanjikan, sehingga kualitasnya diragukan.

​Kekecewaan ini memuncak setelah keluhan warga di media sosial ditanggapi secara mendadak dengan perataan jalan. Namun, proses perataan itu dinilai jauh dari standar perencanaan awal.

​Kualitas Diragukan, Melenceng dari Janji Kepala Desa

Seorang warga setempat,Eduardus Wilfrid Leto (akrab disapa Aleto), mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan informasi dari Kepala Desa, jalan yang ditargetkan memiliki umur fungsional 4 hingga 5 bulan itu seharusnya diratakan setelah material tambahan diturunkan.

​”Informasi dari Kepala Desa sebelumnya akan diturunkan material tambahan baru kemudian diratakan. Akan tetapi, realitanya hanya diratakan tanpa menurunkan material tambahan,” ungkap Aleto.

​Kondisi jalan pasca-perataan dinilai tidak maksimal dan asal-asalan, membuat masyarakat mempertanyakan kualitas proyek ini secara keseluruhan.

​Drainase Pun Jadi Sorotan: Dikerjakan Tak Sesuai Target

​Selain masalah kualitas perataan jalan, Aleto juga menyoroti indikasi bahwa proyek tersebut belum mencapai tahap penyelesaian yang optimal (finishing).

​Ia menambahkan, pembangunan drainase yang seharusnya sepanjang 300 meternamun  Saluran yang belum dikerja sekitar 30-40 meter dan pengerjaannya pun terkesan tidak serius.

​BPD Dinilai ‘Mati Suri’: Minim Pengawasan Dana Desa

Aleto menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan murni didasari oleh kepeduliannya sebagai masyarakat dalam mengawasi kualitas pembangunan desa dan penggunaan dana publik. Ia secara terbuka menyayangkan minimnya peran lembaga pengawas di tingkat desa.

​”Saya memposting seperti ini bukan karena sakit hati, melainkan bentuk kepedulian dan pengawasan saya sebagai masyarakat. Sebab, BPD (Badan Permusyawaratan Desa) Desa Loonuna saat ini saya anggap mati suri,” tegasnya.

​Menurut Aleto, BPD seharusnya menjadi garda terdepan yang lantang mengkritisi pekerjaan yang berpotensi merugikan masyarakat, namun yang terjadi adalah mereka terkesan “diam membisu seolah-olah semua baik-baik saja.”

​Harapan Warga: Keselamatan dan Kesejahteraan di Atas Proyek Asal-asalan
​Masyarakat Desa Loonuna berharap proyek ini segera dikerjakan dengan baik dan sesuai standar demi keselamatan serta kenyamanan pengguna jalan. Pengerjaan yang asal-asalan, mereka ingatkan, berpotensi menimbulkan dampak buruk, termasuk kecelakaan.

​”Kami masyarakat tentu berharap agar proyek ini dilaksanakan dengan baik agar dapat bermanfaat. Kami akan memberikan apresiasi dan dukungan jika pemerintah desa bekerja dengan baik,” tutup Aleto.

​Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Desa Loonuna masih menunggu realisasi janji Kepala Desa untuk menurunkan material tambahan. Kepala Desa dan pihak terkait lainnya belum memberikan tanggapan atau respons resmi terkait keluhan masyarakat mengenai proyek jalan dan saluran yang dikerjakan asal-asalan ini.