Lapas Atambua kolaborasi dengan kemenag Belu.
ATAMBUA,Mediatihar.Com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Belu melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), Kamis (5/2/2026). Kerja sama ini difokuskan pada optimalisasi pembinaan mental dan spiritual bagi para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lapas Atambua tersebut dihadiri langsung oleh Kalapas Atambua, Bambang Hendra Setyawan, dan Kepala Kantor Kemenag Belu, Fidelis Seran, beserta jajaran pejabat struktural, rohaniawan, serta perwakilan warga binaan.
Kepala Kantor Kemenag Belu, Fidelis Seran, memberikan apresiasi tinggi atas inisiasi kolaborasi ini. Menurutnya, memberikan bimbingan rohani kepada warga binaan merupakan tanggung jawab moral instansinya dalam menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
”Warga binaan berhak mendapatkan bimbingan rohani yang berkualitas. Melalui PKS ini, kami menugaskan penyuluh agama secara rutin untuk memberikan pendampingan berkesinambungan guna memupuk pertumbuhan iman dan nilai moral,” ujar Fidelis dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, Kalapas Atambua, Bambang Hendra Setyawan, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan adalah pilar utama dalam transformasi karakter. Ia berharap kerja sama ini menjadi motor penggerak perubahan perilaku warga binaan agar siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang taat hukum.
”Kami ingin pembinaan keagamaan di sini berdampak nyata. Dengan bekal spiritual yang kuat, warga binaan diharapkan mampu memperbaiki diri,” tutur Bambang.
Sebagai tindak lanjut PKS, Lapas Atambua telah menyusun jadwal pembinaan kerohanian yang teratur bagi seluruh pemeluk agama:
Katolik: Senin dan Rabu.
Protestan: Selasa dan Kamis.
Islam: Rabu (termasuk pelaksanaan salat Jumat berjamaah).
Ibadah Raya: Hari Minggu untuk seluruh pemeluk agama sesuai keyakinan masing-masing.
Respon positif pun datang dari warga binaan. Yan Seran, salah satu perwakilan WBP, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran para rohaniawan di dalam Lapas.
“Kami merasa tidak dilupakan oleh dunia luar. Ini menjadi bekal kuat bagi saya agar nanti saat bebas, saya memiliki karakter yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ungkap Yan.








